Bapak Perdamaian, Midun Ceritakan Lelahnya Gowes Malang-Jakarta

Batu, IDN Times - Miftahudin Ramli (53) alias Midun telah menuntaskan misinya untuk gowes dari Malang hingga ke Jakarta. Kini ia telah pulang ke kediamannya di Jalan Darsono Barat, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu. Total selama 12 hari Midun mengayuh sepeda keranda untuk menyuarakan perdamaian antar suporter dan keadilan pada korban dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan.
Midun mengakui jika itu bukanlah perjalanan yang mudah. Fisik yang tak lagi muda, ditambah jalan yang ekstrem diakui membuatnya hampir menyerah. Namun, ia tetap tegar sehingga bisa menyelesaikan perjalanan kurang lebih 800 kilometer.
1. Selama perjalanan Midun tidak menggunakan GPS karena dikawal suporter seluruh Indonesia

Sejak memulai perjalanan dari rumahnya di Kota Batu, Midun mengatakan kalau ia sama sekali tidak menggunakan GPS hingga sampai di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Ia mengatakan sepanjang perjalanan ia dikawal secara estafet oleh seluruh suporter di Indonesia. Ia mengaku terkejut dengan sambutan para suporter, padahal ia tidak meminta dikawal sebelumnya.
Midun mengaku terkejut saat ia tiba di Surabaya pada 4 Agustus 2023, ia dikawal oleh Bonek Mania yang merupakan rival lama Aremania. Bahkan, ia disambut pentolan Bonek, Cak Tulus dan perwakilan Manajemen Persebaya Surabaya, Alex Tualeka. Di sana ia berbincang terkait perdamaian suporter dan dihadiahi hoddie sebagai bekal perjalanan.
Midun menceritakan kalau perjalanan paling berat adalah saat ia sampai di Jalur Alas Roban yang ada di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia mengatakan kalau jalurnya ekstrem sehingga membuat ia harus ekstra hati-hati.
"Di Alas Roban ini jalannya rungkad, nyurung (dorong) dan angkat. Karena jalurnya tanjakan, jadi gak mungkin dikayuh dengan fisik saya," terangnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (19/8/2023).
Lalu pada 13 Agustus 2023, Midun sampai di Bulungan, Kebayoran, Jakarta. Di sana ia sempat mengalami kendala karena kelelahan dan sepedanya mulai mengalami masalah. Akhirnya ia mendapatkan perawatan medis dan sepedanya diperbaiki.
Midun akhir sampai di titik terakhir perjalannya di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta pada 14 Agustus 2023 pukul 10.46 WIB. Di sana ia langsung menangis haru dan melakukan sujud syukur.
2. Midun terharu dengan sambutan para suporter sepak bola Indonesia

Sepanjang perjalanan, Midun merasakan kehangatan suporter seluruh Indonesia. Sepanjang 24 kota di Indonesia yang ia lewati selalu disambut suporter tim lokal tanpa putus-putus. Ia melewati kota-kota seperti Malang, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Jatibarang, Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, dan Jakarta.
Midun mengatakan tidak mengenal mereka, sehingga ia terkejut selalu dapat sambutan hangat. Midun baru berkenalan ketika ia sampai di stadion-stadion yang ia singgahi di setiap kota. Ternyata mereka tersentuh dengan perjuangan Midun untuk menyuarakan perdamaian suporter Indonesia.
Tapi ia paling teringat saat sampai di Karawang, ia ditemukan suporter PSM Makassar di sana. Salah seorang suporter tersebut langsung memeluk dan menangis saat bertemu dirinya. Ia mengaku sempat canggung melihat dirinya disambut sebegitunya.
"Dia memeluk saya karena malu dan terharu. Dia mengatakan kenapa bukan dirinya yang masih muda melakukan ekspedisi ini," ungkapnya.
Sepanjang perjalanan, Midun bahkan dijuluki sebagai Bapak Perdamaian oleh para suporter yang menyambut dirinya. Perjuangannya diakui para suporter membuat mereka sadar pentingnya rasa persaudaraan sesama pecinta sepakbola Indonesia.
3. Sudah kangen rumah, Midun pulang sehari sebelum perayaan kemerdekaan RI

Sehari sebelum perayaan kemerdekaan, Midun memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Kota Batu. Sebelum pulang, ia menyempatkan mampir di kediaman kerabatnya di Bogor. Ia kemudian pulang dengan menaiki pesawat pada 16 Agustus 2023.
"Saya sudah gak kuat menahan kangen keluarga, jadi saya pulang kemarin. Saya sampai sekitar ashar (16.00 WIB) dengan pesawat dari Jakarta ke Malang. Sepeda saya dikirimkan lewat Pos Indonesia," bebernya.
Ia berharap perjalanannya bisa menginspirasi seluruh suporter Indonesia agar mengedepankan perdamaian daripada rivalitas berlebihan. Harapannya Tragedi Kanjuruhan adalah kejadian berdarah terakhir di persepakbolaan Indonesia. Selama perjalanan, ia mengetahui jika para suporter yang ia temukan juga menginginkan perdamaian.
"Kita itu adalah anak bangsa yang menjunjung tinggi sportivitas. Yang mendamaikan bukan saya, tapi mereka sendiri. Mereka hanya mendukung saya yang hanya melakukan perjalanan saja," pungkasnya.