Burnout atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya terbakar habis, adalah fenomena kelelahan secara mental akibat memforsir energi secara berlebihan. Burnout diibaratkan seperti lilin yang terbakar habis. Kondisi ini membuat penderita perasaan negatif kepada pekerjaan atau tugas dalam waktu lama dan berkepanjangan.
Psikolog industri organisasi dari Psychologycal Education and Research Ceria Hati, Gebi Angelina Zahra MPsi mengatakan, burnout membuat siapapun akan merasa tak mampu menyelesaikan beban atau tugas yang ada di depan mata.
"Orang yang memiliki ekspektasi tinggi pada pekerjaan atau tugas adalah yang paling rentan mengalami burnout. Biasanya mereka adalah orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan dedikasi karena ingin diterima di lingkungan sosialnya," terang
Mereka, kata Gebi, memiliki tuntutan pada diri sendiri untuk bekerja secara sempurna agar mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Ekspektasi ini justru kerap membuat mereka lupa untuk sekadar beristirahat.
"Selain itu orang yang mudah terkena burnout adalah mereka yang agreeable atau mudah setuju dengan tuntutan lingkungan. Misalnya lulus tepat waktu, lalu memiliki pekerjaan dengan gaji minimal Rp6 juta per bulan, menikah tepat waktu," jelasnya.
Gebi menyebutkan ada 3 tahapan seseorang mengalami burnout. Ketiganya dimulai dengan memunculkannya tuntutan dalam tugas-tugas, munculnya perasaan negatif dalam pekerjaan, dan akhirnya menarik diri dari pekerja.