Surabaya, IDN Times - Aroma steak panas yang mendesis di atas hot plate masih setia menyambut setiap tamu yang melangkah masuk ke Boncafe Steak & Ice Cream. Hampir lima dekade berlalu sejak pertama kali berdiri pada 28 Februari 1977, namun restoran legendaris ini tak sekadar bertahan. Ia bertransformasi.
Menjelang usia ke-49 tahun, Boncafe memperbarui konsep interior dan pelayanan, sekaligus menghadirkan museum mini yang menyimpan sejarah panjangnya. Perpaduan modernisasi dan nostalgia ini menjadi cara Boncafe merawat loyalitas pelanggan lama sambil merangkul generasi baru.
CEO Boncafe Andrew Prasetya mengatakan pembaruan dilakukan sebagai bagian dari komitmen untuk terus relevan di tengah dinamika industri kuliner yang kian kompetitif.
“Tentu kita ingin terus memberikan improvement dari apa yang telah kita lakukan selama ini. Dari desain interior, penyajian sampai servis kita ingin memberikan yang lebih baik lagi untuk setiap customer,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Berawal dari satu outlet di Surabaya, Boncafe kini berkembang hingga ke luar Pulau Jawa. Namun, satu hal yang tak berubah adalah identitasnya sebagai restoran keluarga.
“Inti dari Boncafe sebagai family restaurant tidak akan kita ubah karena itu core kita. Kita ingin Boncafe selalu ada di momen-momen customer,” katanya.
Wajah baru Boncafe kini tampil lebih segar tanpa meninggalkan sentuhan klasik yang menjadi ciri khasnya. Di sudut tertentu, pengunjung bisa menemukan museum mini berisi koleksi perjalanan Boncafe sejak era 1970-an. Mulai dari menu lawas dengan desain retro, peralatan makan generasi awal, kalender lama, hingga foto-foto hitam putih yang merekam suasana restoran di masa lalu.
Andrew menyebut museum tersebut bukan sekadar pajangan, melainkan ruang memori. “Kita ingin apa yang telah Boncafe lakukan puluhan tahun ini tidak hilang. Generasi berikutnya bisa tahu seperti apa Boncafe dulu,” tuturnya.
Bagi banyak pelanggan, Boncafe bukan sekadar tempat makan steak. Ia adalah saksi cerita, dari makan malam keluarga, ulang tahun anak, hingga kencan pertama. Museum mini itu diharapkan mampu membangkitkan kembali kenangan tersebut.
“Harapannya orang datang bisa ingat momen-momen indah mereka. Misalnya dulu makan di sini saat pacaran atau acara keluarga,” jelas Andrew.
Secara kuliner, Boncafe dikenal sebagai pelopor steak bergaya Barat yang disesuaikan dengan lidah Indonesia. Resepnya merupakan warisan keluarga dari pendiri Boncafe, Evelina Natadihardja, yang terinspirasi pengalaman kuliner di luar negeri.
Cita rasanya disebut memiliki pengaruh Eropa, khususnya Belanda, namun telah dimodifikasi agar cocok dengan selera masyarakat Surabaya. “Kita tidak bisa bilang ini murni Western, karena sudah disesuaikan dengan lidah Surabaya dan Indonesia,” katanya.
Menu seperti chicken steak tetap menjadi favorit hingga kini. Sensasi hot plate yang mengepul saat disajikan masih menjadi daya tarik utama yang melekat di benak pelanggan lintas generasi.
Perjalanan Boncafe menuju status legendaris pun tidak instan. Pada awal berdiri, restoran ini belum langsung dikenal sebagai rumah steak. Beragam menu sempat dijual sebelum akhirnya menemukan identitas kuat melalui konsep steak hot plate.
“Awalnya kita tidak langsung punya steak. Jual macam-macam makanan, tetapi belum menemukan breakthrough,” ungkap Andrew.
Konsep itulah yang kemudian menjadi titik balik dan mengukuhkan Boncafe sebagai salah satu ikon kuliner Surabaya. Di tengah gempuran tren kafe tematik dan restoran modern, Boncafe memilih beradaptasi tanpa meninggalkan akarnya.
Menurut Andrew, inovasi akan terus dilakukan agar Boncafe mampu bertahan menghadapi perubahan zaman dan kondisi ekonomi. “Kami percaya kalau terus melakukan yang terbaik, Boncafe bisa terus berkembang,” pungkasnya.
