Comscore Tracker

Wisata Sewu Sambang, Bangkitkan Rasa Percaya Diri Pemuda Pinggir Hutan

Dulu malu, sekarang percaya diri

Banyuwangi, IDN Times - Dimas Darmawan (17), pemuda yang tinggal di perbatasan hutan KPH Banyuwangi Utara mulanya tidak percaya diri menyebut alamat rumah tempat dia dilahirkan di Lingkungan Papring Kelurahan Kalipuro. Rasa tidak percaya diri tersebut muncul karena akses jalan menuju rumahnya yang sulit, berada di pinggir hutan dan jauh dari kota.

"Ya kalau sekarang sudah percaya diri kalau saat jalan-jalan ke luar ditanya rumahnya di mana. Kalau sebelumnya masih malu karena dikenal dengan kawasan pelosok, pinggir hutan dengan akses jalan sulit," kata Dimas kepada IDN Times, Senin (9/11/2020).

1. Sebelumnya menganggur sekarang ada kerjaan

Wisata Sewu Sambang, Bangkitkan Rasa Percaya Diri Pemuda Pinggir HutanDestinasi wisata Bukit Sewu Sambang saat malam hari. IDN Times/Mohamad Ulil Albab

Rasa percaya diri Dimas tidak lepas dari kegiatan pemuda yang coba mengenalkan potensi wisata di kampungnya yang bernama Bukit Sewu Sambang pada 2019. Tidak hanya mengurus pariwisata, para pemuda juga mengelola bisnis produksi kopi lokal.

"Sekarang pemuda tidak hanya menganggur, ada kegiatan positif saling kerja sama, gotong-royong, mengenalkan wisata di kampung kami," kata Dimas.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jajang Arum, Wisata Bukit Sewu Sambang, Tamam Fauzi (32) mengatakan, destinasi Bukit Sewu Sambang dibuka dengan penuh semangat dari para pemuda Papring. Mulanya pada 2017 para pemuda melihat potensi keindahan alam di Bukit Sewu Sambang yang sebelumnya bernama Keseran. 

Nama Bukit Sewu Sambang bermakna banyak pemandangan bukit dan diharapkan dihadiri banyak orang, hingga ribuan.

2. Dua tahun kerja bakti

Wisata Sewu Sambang, Bangkitkan Rasa Percaya Diri Pemuda Pinggir HutanWisata Bukit Sewu Sambang. IDN Times/Istimewa

Saat pertama ke sana, Tamam dan para pemuda melihat kondisi Bukit Keseran masih penuh dengan semak belukar dan hanya dimanfaatkan warga sebagai ladang mencari rumput. Meski masuk dalam status kawasan hutan lindung di Perhutani,  tegakan tanaman kayu sudah habis ditebang warga.

"Para pemuda akhirnya kerja bakti selama dua tahun untuk membersihkan semak belukar dan tanaman ramban rasidi. Butuh proses pemahaman ke warga karena ladang merumputnya berkurang, kami beri penjelasan terkait manfaat ekonomi destinasi wisata," kata Tamam.

Setelah 2 tahun berjuang membersihkan kawasan destinasi, baru pada 2019, para pemuda Papring siap membuka kunjungan wisata. Para pemuda juga telah mengantongi izin dari Perhutani. 

"Dan akhirnya bisa secara resmi dibuka bersama Perhutani dan pejabat pemerintah setempat," katanya.

3. Berdayakan 30 pemuda

Wisata Sewu Sambang, Bangkitkan Rasa Percaya Diri Pemuda Pinggir HutanWisata Bukit Sewu Sambang. IDN Times/Mohamad Ulil Albab

Saat ini, sudah ada 30an pemuda yang terlibat mengelola wisata Bukit Sewu Sambang. Warga sekitar juga bisa menjual kayu bakar untuk wisatawan yang ingin membuat api unggun saat berkemah. Tidak hanya itu, warga sekitar wisata juga bisa membuka warung, jaga parkir, dan mendapatkan bantuan sosial berupa sembako setiap bulan dari Pokdarwis Jajang Arum.

"Selain itu, kami juga  berharap pemerintah tahu, kalau di sini ada potensi pariwisata luar biasa. Dan mereka agar tahu kondisi jalannya seperti apa, ya harapannya bisa diperbaiki," ujarnya.

Untuk menuju ke wisata Bukit Sewu Sambang, pengunjung memang harus melewati medan jalan berbatu, naik-turun. Meski demikian pengunjung juga bisa melihat pemandangan perkebunan kopi, pohon pinus, dan jati. 

4. Tempat asik untuk berkemah

Wisata Sewu Sambang, Bangkitkan Rasa Percaya Diri Pemuda Pinggir HutanDestinasi wisata Bukit Sewu Sambang saat malam hari. IDN Times/Mohamad Ulil Albab

Wisata Bukit Sewu Sambang dikenalkan sebagai tempat yang nyaman untuk berkemah atau nge-camp bersama keluarga. 

Saat pagi hari, pengunjung bisa melihat pemandangan Selat Bali dengan aktivitas penyeberangan feri, dan tentunya lengkap dengan gugusan bukit Sewu Sambang. Hingga pegunungan Taman Nasional Bali-Barat, Taman Nasional Baluran hingga Kawah Ijen.

"Saat pagi banyak yang mengambil foto karena sunrise di sini bagus dengan lanskap Selat Bali. Bahkan saat akhir pekan bisa sampai 150 orang yang nge-camp di sini," ujarnya.

Wisata Sewu Sambang berada di ketinggian sekitar 200 Mdpl. Kawasan tersebut berada di kawasan KPH Banyuwangi Utara dengan luasan wilayah destinasi 6 hektare. Tamam mengatakan, dengan luasan tersebut, cukup untuk mengatasi standar protokol kesehatan pencegahan virus Corona.

"Luasan 6 hektare ini sangat luas sekali, jadi bisa terpantau untuk tetap menjalankan jaga jarak antar wisatawan. Apalagi ini di kawasan terbuka," ujarnya.

5. Harus bawa surat nikah

Wisata Sewu Sambang, Bangkitkan Rasa Percaya Diri Pemuda Pinggir HutanIlustrasi buku nikah -- IDN Times/Istimewa

Bila ingin nge-camp, ada sejumlah peraturan dari Pokdarwis Jajang Arum sebagai pengelola destinasi wisata. Siapapun yang menginap dilarang membuang sampah sembarangan, minum alkohol, dan harus bisa menunjukkan surat menikah.

"Kami memang harus memastikan untuk menjaga kepercayaan norma di masyarakat. Caranya ya harus bisa menunjukkan surat menikah buat pasangan kalau mau nge-camp. Dan kalau bawa minuman keras akan kami sita, dan dikembalikan saat sudah pulang," jelasnya.

Untuk masuk ke wisata Bukit Sewu Sambang, pengunjung cukup membayar Rp5.000 untuk biaya parkir tiap kendaraan, dan Rp10.000 bagi yang akan menginap. Pihak pengelola sendiri juga menyediakan sewa tenda dengan rentang harga Rp25.000-50.000, sesuai kapasitas tampung.

"Bagi yang ingin bikin api unggun sudah kami siapkan tong dan kayu bakar dengan harga Rp5000 per ikat. Khusus hari Jumat wisata kami tutup," ujarnya.

Salah satu pedagang kuliner di wisata Bukit Sewu Sambang, Makso (60), merasa mendapatkan manfaat ekonomi yang cukup tinggi sejak dia membuka warung. Saat akhir pekan saja, rata-rata dia bisa mendapatkan Rp 1 juta per hari.

"Terutama kalau akhir pekan, ramai yang camp di sini. Saya juga jual kayu bakar. Per ikat Rp 5000, bawa 10 ikat rata rata habis," ujar Makso.

Topic:

  • Mohamad Ulil Albab
  • Dida Tenola

Berita Terkini Lainnya