Comscore Tracker

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau 

Usai babak belur di Asian Games, rentetan program disiapkan

Surabaya, IDN Times - Malam itu, Selasa, 28 Agustus 2018, stadion Jakabaring Palembang bergemuruh. Ratusan suporter tim nasional (Timnas) Putri Indonesia tak henti-hentinya meneriakkan dukungan. “Yo ayo, ayo Indonesia. Ku ingin, kita harus menang,” yel-yel tersebut berkumandang lantang. 

Sayangnya, dewi fortuna kembali tak bersahabat. Garuda Pertiwi dibenamkan oleh Korea Selatan dengan 12 gol tanpa balas! Beberapa penggawa bertekuk lutut, lainnya menjatuhkan tubuh di atas rumput hijau. Bahkan, tak sedikit yang tak kuat menahan derasnya air mata. Dari pinggir lapangan, sang pelatih Satia Bagdja, hanya berdiri mematung tanpa ekspresi.

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau IDN Times/Vanny El Rahman

Selain menghentikan langkah mereka di Asian Games, hasil ini juga menambah panjang raihan minor Timnas putri. Pada pertandingan sebelumnya, Indonesia terpaksa bertekuk lutut dari Taipei dengan skor 0-4. Padahal, publik sempat menggantungkan asa tinggi kepada Noffince Boma dan kawan-kawan. Betapa tidak, pada pertandingan pertama, mereka mampu menggelontorkan setengah lusin gol ke gawang Maladewa. 

Meski kecewa, para penonton tetap memberikan sambutan tepuk tangan kala pemain meninggalkan lapangan. Bahkan, lagu "Indonesia Pusaka" mereka lantunkan untuk tetap memberikan semangat.  Para penonton seolah mengirimkan pesan bahwa “Kalianlah masa depan sepak bola Indonesia. Tetap semangat dan jangan berlarut dalam kesedihan terlalu lama”. Tak mau lama-lama berduka, serentetan evaluasi pun segera dilakukan.  

1. Liga sepak bola perempuan harus ada

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau IDN Times/Vanny El Rahman

Ditemui usai pertandingan, salah satu pemain Timnas putri, Mayang ZP tak bisa menyembunyikan  kekecewaannya. “Hasilnya sangat mengecewakan. Tapi kami sudah maksimal lawan Korea. Sebenarnya kami mampu, tapi kami gak bisa bertahan,” ujar Mayang kepada IDN Times.  

Mayang sendiri merupakan salah satu pemain yang sarat pengalaman. Bermain di Selangor FA, Malaysia, kemampuan Mayang tak lagi diragukan. Daya jelajahnya juga terbilang nomor wahid di antara rekan satu timnya. 

Meski begitu, sepak bola adalah permainan tim. Dia meminta supaya pemerintah segera menyelenggarakan liga sepak bola untuk perempuan. Baginya, ini menjadi satu-satunya cara supaya sepak bola perempuan Indonesia semakin lebih baik lagi. 

Keinginan serupa juga disampaikan oleh Norffince Boma. Sebagai kapten sekaligus penjaga gawang, ia mungkin menjadi pemain yang paling tertekan. Betapa tidak, selama gelaran berlangsung, Boma harus 16 kali memungut bola dari gawangnya. 

Boma mengatakan, “Ini jadi pelajaran berharga bagi kami. Kami berharap ada liga putri di Barat, Timur, dan Tengah. Supaya seleksinya benar juga. Pasti lebih banyak yang lebih bagus dari kami. Harus ada kompetisi supaya sepak bola Indonesia tidak ketinggalan.”   
 

2. Pelatih mengeluhkan keterbatasan kemampuan pemain

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau IDN Times/Vanny El Rahman

Berbeda dengan para pemain yang meminta adanya kompetisi. Satia Bagdja justru mengeluhkan minimnya waktu istirahat bagi para pemain. Dia berkilah bahwa salah satu sebab kekalahan timnya adalah jeda antar pertandingan yang terlalu mepet. Menurutnya, Indonesia hanya memiliki waktu satu hari untuk istirahat.  

Selain itu, dia juga memberikan catatan soal kemampuan para pemain. Satia merasa ada ketimpangan kemampuan individu antara tim utama dengan tim cadangan. Terakhir, dia tidak menafikkan bila Taiwan dan Korea Selatan memang memiliki level yang jauh di atas Indonesia. Untuk diketahui, berdasarkan peringkat FIFA saat ini, Indonesia menemapati peringkat 77, sedangkan Taiwan pada peringkat 42, dan Korea Selatan berada di posisi 15. Karenanya, strategi Indonesia pada babak kedua lebih bertahan. 

“Saya bilang sabar, yang penting bola di kaki. Memang gak akan sanggup kita. Saya coba untuk jangan sampai ada cross. Di babak kedua saya instruksikan press agak di atas. Saya memasukkan pemain bernaluri penyerang bertahan sebagai jangkar. Di tengah saya mainkan 3 bek tengah. Saya hanya tinggalkan 2 orang untuk menyerang. Saya bilang tahan. Ya tapi kami gak bisa tahan dan mereka jauh lebih kuat,” ujarnya.

“Padahal, andai kami bisa lolos ke babak 8 besar (menjadi peringkat 3 terbaik) kalau tahan sedikit lagi,” terang Satia.  

3. Tak banyak waktu dan pilihan dalam menyusun skuad

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau Instagram.com/@pssi__fai

Keluhan soal kemampuan para pemain sangat dipahami oleh Papat Yunisal, Ketua Asosiasi Sepak Bola Wanita. Sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Papat mengaku melihat sendiri bagaimana proses pemilihan 25 pemain terbaik yang akhirnya merumput di Asian Games.  

Tim pelatih, kata dia, hanya memiliki waktu setahun untuk menyiapkan skuad. Piala Pertiwi 2017 yang diselenggarakan di Sumatera Selatan menjadi pijakan awal untuk memilih para srikandi lapangan hijau. “Awalnya 12 provinsi test event di Palembang. Kita ambil 40 dari Pertiwi Cup. Namun dari 40 kita ada tambal sulam, yang ini kurang baik misalnya. Nah kita ambil juga dari futsal," ujarnya. 

Setelah terpilih 100 orang untuk Asian Games, PSSI juga melakukan berbagai tambal sulam. "Kami memang TC (Training Camp) sudah 5 bulan, tapi sampai H-10 masih ada yang kami pulangkan,” beber dia. 

4. Belum ada regulasi yang bisa mendukung

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau IDN Times/Vanny El Rahman

Menurut Papat, belum adanya regulasi perihal sepak bola putri juga menjadi sebab mengapa pengembangan sepak bola putri jalan di tempat. Ia mengatakan, beberapa bulan ke depan, regulasi soal Liga 1 perempuan akan segera digarap. Meski belum ada regulasi yang mengatur, namun sudah ada beberapa klub yang mengajak para pemain bergabung dengan klub sepak bola perempuannya. 

“Ya saya bilang sabar dulu, nanti mungkin provinsi kamu buat klub. Kalau bisa memang klub Liga 1 yang buat, supaya misalnya nih Persib hari ini putri main, nah besoknya yang putranya main. Jadi terbantu juga secara pendanaan.”  

Selain regulasi dan kompetisi, Papat juga menyebut minimnya sarana jadi kendala lain. “Misal di Bandung, itu pakai lapangan minimal 2 jam itu Rp2 juta. Jadi belum kerja sama dengan pemerintah. Belum ada orang yang bisa menjembatani,” ujarnya. Di sisi lain, sponsor juga enggan masuk karena kondisi cabang ini kurang berkembang. Terakhir, adalah masalah sumber daya manusa. “Kami baru tahu info resmi kalau perempuan mau ikut event internasional, minimal ada 1 pelatih lisensi B AFC,” tambahnya.

5. Potensi sepak bola putri sebenarnya sangat besar

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau Instagram.com/@pssi__fai

Di balik silang sengkarut pengembangan cabang ini, Papat menjelaskan bila potensi sepak bola perempuan sebenarnya sangat luar biasa. Berdasarkan data yang dimilikinya, kurang lebih ada 1000 perempuan yang memiliki potensi untuk terjun ke dunia ini. Lebih dari itu, besaran anggaran Rp9,5 miliar dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk Asian Games membuktikan bahwa negara sebenarnya sangat mendukung pengembangan sepak bola perempuan. Jumlah itu menurutnya lebih dari cukup, bahkan bisa membiayai try out  AFF. 

Melihat potensi yang ada, Papat beserta jajarannya mengaku akan tancap gas untuk menyaring talenta berbakat. Bagi mereka yang sudah terjun di dunia profesional, PSSI sudah mempersiapkan berbagai liga dan kompetisi. Bagi talenta muda, kompetisi seperti Danone Cup akan dilesenggarakan di setiap provinsi. Sebab, di setiap Asosiasi Provinsi PSSI (Asprov) sebenarnya sudah ada Bidang Sepak Bola Wanita, hanya saja program kerjanya belum terlaksana sepenuhnya. 

6. Tertinggal jauh dengan negara tetangga

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau Instagram.com/@pssi__fai

Jika tak segera digarap, kata Papat, sepak bola perempuan Indonesia akan semakin tertinggal jauh dari negara tetangga. Menempati peringkat 77 FIFA, Indonesia hanya unggul dari Malaysia (83) dan Singapura (101). Sebaliknya, kita terpaut jauh dari Thailand yang menjadi jawara Asia Tenggara di rangking 28 dunia. Tiga negara Asia Tenggara lain yang juga memiliki rangking di atas kita antara lain Vietnam (27), Myanmar (44), dan Filipina (73). 

Namun, Papat yakin sepak bola Indonesia akan terus bangkit. “Dulu sempat peringkat 60, terus drop sampai peringkat 130 karena sempat dibekukan. Nah sekarang kita sudah lebih baik lagi, sudah di atas Malaysia dan Singapura. Makanya Asian Games kemarin kami berharap sebagai langkah supaya sepak bola kami dianggap. Target kami cukup menang sekali pada fase grup. Dan akhirnya kami bisa menang 6 gol lawan Maladewa,” tutur dia. 

Baca Juga: Selangkah Lagi, Timnas Putri U-16 Melangkah Ke Semifinal AFF 2018

7. Membangun timnas putri tak bisa asal simsalabim

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau IDN Times/Ardiansyah Fajar

Senada dengan Papat, Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria juga tidak menampik bila persiapan yang minim dan sumber daya yang terbatas menjadi kendala bagi timnas putri untuk bersinar di Asian Games 2018. 

Untuk itu, ia mengaku memaklumi capaian mereka. Menurut Tisha, anak asuh Satia memang tak dibebani target muluk-muluk pada ajang empat tahunan tersebut. Salah satu misi utama adalah mempromosikan sekaligus "mengabarkan" pada dunia bahwa Indonesia memiliki sepak bola perempuan. 

“Kami harus sadar kalau kami baru mulai mempromosikan sepak bola putri. Harapannya di Asian Game ini bisa menjadi inspirasi bagi putri-putri lainnya untuk bisa bermain bola. Kami gak bisa pungkiri hasil proses ya, yang penting mereka (para pemain) enjoy the game dulu. Kapan lagi mereka bisa melawan tim kelas dunia kalau bukan di Asian Games,” jelas Tisha usai menyaksikan pertandinga Indonesia lawan Korea Selatan.  

Meski memaklumi, federasi tak mau tinggal diam. Pada tahun 2019, Tisha mengatakan bahwa PSSI akan menggalakkan kompetisi sepak bola untuk perempuan di seluruh pelosok Indonesia. “Kompetisi itu (perempuan) memang planning kita sejak awal tahun. Hasil kongres tahunan PSSI salah satunya ada, yaitu kompetisi wanita 2019. Jadi di tahun 2019 kita lihat berapa yang bisa untuk kompetisi Liga 1 wanita. Jadi setiap klub untuk bisa berpartisipasi mengirimkan, siapa yang ready kita mulai,” lanjut Tisha. 

“Kita tahu sepak bola ini adalah olahraga nomor 1 di Indonesia dan perempuan juga ada potensi ke sana. Peluang investasi juga ada, tapi tergantung atmosfernya dulu. Nah ini guidance-nya seperti apa, apa yang harus disiapkan. Kan gak bisa simsalabim tiba-tiba bikin tim perempuan, apalagi langsung berharap prestasi,” lanjut dia.

Merajut Asa Srikandi Lapangan Hijau IDN Times/Sukma Shakti

Baca Juga: Timnas Putri Gagal Bersinar, PSSI Rencana Adakan Liga Sepak Bola Putri

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Faiz Nashrillah

Just For You