Comscore Tracker

Pemilihan Ketum PSSI, La Nyalla Singgung Voters yang Bisa Dirayu

Menurutnya voters harus berdaulat

Jakarta, IDN Times -  Setelah dilakukan verifikasi, Komite Pemilihan PSSI akhirnya menetapkan sebanyak delapan orang yang akan bersaing dalam kongres pemilihan Ketua Umum pada 2 November 2019. Salah satu calon ketua PSSI, La Nyalla Mattalitti, mengatakan bahwa voters adalah kunci dari perubahan PSSI ke depan. Sejatinya, perubahan PSSI dan sepakbola nasional ada di tangan voters.

1. Voters jadi penentu masa depan PSSI

Pemilihan Ketum PSSI, La Nyalla Singgung Voters yang Bisa DirayuAntara Foto/Wahyu Putro A

Menurut dia, dengan hak suaranya di kongres, merekalah yang akan menjadi penentu hitam-putihnya sepakbola negeri ini. Sebab, voters-lah yang memilih 15 pejabat elite PSSI untuk periode 2019-2023 Yaitu ketua umum, 2 wakil ketua umum, dan 12 Exco.

"Kedaulatan sepak bola sesungguhnya memang dimiliki voters. Walaupun kenyataan lebih sering memperlihatkan sebaliknya. Dengan kata lain, kebanyakan voters kurang berdaulat dengan suaranya. Ini momentum untuk menunjukkan bahwa voters PSSI kini lebih berdaulat," ujar La Nyalla dalam rilis yang diterima IDN Times, Selasa (15/10).

Baca Juga: [BREAKING] Usai Jadi Ketua DPD, La Nyalla Maju di Bursa Caketum PSSI

2. Ada banyak voters yang bisa ditarik ke kanan-kiri

Pemilihan Ketum PSSI, La Nyalla Singgung Voters yang Bisa DirayuIDN Times/Imam Rosidin

Tidak dapat dipungkiri, banyak voters yang lebih sering dan senang ditarik ke sana-sini oleh calon pemimpin mau pun incumbent PSSI. Dirayu, diiming-imingi, dimanfaatkan, dan pada akhirnya voters itu sendiri menikmati dan memanfaatkan posisinya saat diboyong ke sana-kemari.

Namun demikian, diakui La Nyalla, masih ada voters yang teguh berdaulat dengan suaranya. Tapi, jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan memilih pragmatis. Larut dengan cara-cara yang sudah dianggap kebiasaan alias transaksional. Bahasa pasarnya; 'wani piro?'. Sebuah pola pikir dan kebiasaan yang menurutnya akan membuat sepakbola bakal jauh dari perubahan.

"Kebiasaan transaksional secara otomatis akan menggiring pilihan voters bukan berdasarkan logika dan nurani sepak bola untuk perubahan, tapi cenderung menjadi pilihan praktis dan hanya demi keuntungan sesaat atau keuntungan kelompok. Jika menyangkut besaran nominal uang, anggap saja motif hadir ke kongres hanya semacam mencari gaji ke-13, ke-14, dan seterusnya," ujar Ketua DPD periode 2019-2024 itu.

3. Voters harus pilih Ketum dan Exco yang bisa bawa perubahan

Pemilihan Ketum PSSI, La Nyalla Singgung Voters yang Bisa DirayuANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Jadi, bagaimana agar sepakbola Indonesia bergerak ke arah perubahan?

Menurut La Nyalla, itu hanya bisa diraih jika voters kembali berdaulat dengan suaranya. Voters yang tidak semata-mata mengutamakan transaksional. Tapi voters yang peka dan responsif dengan keinginan perubahan di PSSI dan sepakbola nasional yang kini bergema di kalangan publik sepakbola sendiri.

"Voters harus memilih ketum, waketum dan Exco yang membawa aspirasi perubahan. Harus idealis. Bukan justru mencari kesempatan untuk mendapat keuntungan pribadi dengan 'bertransaksi' suara," tegasnya.

Baca Juga: Profil Caketum PSSI: La Nyalla Mattalitti dan Sederet Kontroversinya

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Just For You