Comscore Tracker

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda Tsunami

Kenali tanda-tanda tsunami

Banyuwangi, IDN Times - Baru-baru ini Pulau Bali terjadi gempa dengan skala 6 SR. Getarannya menyebabkan beberapa bangunan di Banyuwangi rusak. Meski tak ada peringatan tsunami, gempa bumi itu membuat panik masyarakat yang takut terjadi tsunami seusai gempa. Sebetulnya, masyarakat tidak perlu panik dan takut akan tsunami. Ini karena gempa yang terjadi belum tentu mengakibatkan tsunami. Sebetulnya masyarakat bisa melihat tanda-tanda tsunami agar tidak panik ketika terjadi gempa.

Lantas seperti apa tanda-tanda tsunami dan upaya preventif serta bagaimana menyelamatkan diri dengan baik ketika akan terjadi tsunami? Simak penuturan lengkap Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Timur, Gatot Subruto, kepada IDN Times berikut ini.

1. Letak geografis adalah penyebab utama terjadinya tsunami di Indonesia

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda TsunamiIDN Times/Nena Zakiah

Waktu menunjukkan pukul 15:52 WIB, Gatot Subroto bersama rekan-rekannya dari BPBD Provinsi Jawa Timur masih belum beranjak. Dengan ramah, Gatot menjelaskan secara detail mengenai penyebab utama terjadinya tsunami di Indonesia pada IDN Times.

"Seperti yang kita ketahui, Indonesia berada di wilayah cincin api. Posisi Indonesia secara umum terhimpit oleh tiga lempeng, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik," ungkap Gatot.

Dengan 3 lempeng yang menghimpit dan bertumbukan, menjadikan wilayah Indonesia rawan akan gempa.

"Wilayah Indonesia yang rawan gempa menyebabkan adanya dorongan atau patahan pada lempeng dan akhirnya menimbulkan gelombang besar tsunami," lanjutnya.

Gatot juga menyebutkan bahwa bukan hanya gempa tektonik, aktivitas vulkanik pun bisa menyebabkan gelombang tsunami, seperti yang terjadi pada tsunami Banten 2018 silam yang disebabkan oleh letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

2. Gempa berturut-turut dengan magnitudo besar dapat menyebabkan tsunami

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda Tsunamiindependent.co.uk

Lebih lanjut, Gatot menuturkan cara-cara mudah untuk mengidentifikasi terjadinya tsunami, yakni dengan melihat apakah terjadi gempa atau tidak.

"Cari informasi, apakah ada gempa susulan atau tidak. Biasanya, gempa besar menimbulkan gempa susulan yang terjadi setelahnya," jelas Gatot.

Jika gempa terjadi sekali dengan magnitudo kecil, maka tak perlu terlalu dikhawatirkan. Namun, jika ada gempa susulan, maka berhati-hatilah. Gempa dengan magnitudo besar seperti di atas 7,0 SR memiliki risiko besar menyebabkan tsunami.

3. Hindari area pantai apabila air laut surut secara tiba-tiba

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda Tsunami6thstation.com

Air laut yang surut tiba-tiba merupakan pertanda akan terjadi tsunami. Ini karena gempa tektonik yang terjadi menimbulkan keretakan di dasar laut dan menyebabkan air terserap ke dalamnya. Setelahnya, gelombang besar akan menerjang daratan dengan energi dan kecepatan yang tinggi serta mematikan.

"Kalau sedang berada di pinggir pantai atau laut, lalu air tiba-tiba surut dengan cepat, maka secepatnya hindari dan jauhi. Bukan justru malah didekati," ungkap Gatot.

Penduduk yang salah mengartikan pertanda air surut biasanya justru merasa senang dengan fenomena tersebut dan dimanfaatkan untuk mencari ikan. Padahal, bisa jadi itu adalah pertanda tsunami!

Baca Juga: Ekspedisi Destana 2019: Siagakan Penduduk Pesisir dari Bahaya Tsunami

4. Kurangnya edukasi tentang tsunami membuat tingginya korban jiwa

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda Tsunamicbsnews.com

Sesi arahan dari Kepala BNPB, Doni Monardo sehari sebelumnya (12/7), menyebut bahwa tsunami merupakan mesin pembunuh nomor 1 di dunia. Lantas, apa yang menyebabkan tingginya korban jiwa yang jatuh akibat tsunami?

"Korban berjatuhan karena selama ini tidak ada edukasi tentang tsunami dan penanganan bencana lebih bersifat responsif. Apabila terjadi bencana, baru kita datang untuk membantu," ungkap Gatot.

Kurangnya edukasi dan pengetahuan itulah yang memakan banyak korban. Misalnya, edukasi terkait air laut yang surut yang merupakan pertanda tsunami.

"Saat air laut surut, penduduk setempat justru memanfaatkannya untuk mencari ikan. Lalu, sontak datang gelombang tsunami dan mereka tidak bisa menyelamatkan diri," terang Gatot.

5. Upaya preventif dan edukasi menjadi program utama BPBD dan BNPB saat ini

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda TsunamiIDN Times/Nena Zakiah

Berdasarkan kajian dan evaluasi, penanganan bencana yang bersifat responsif kini telah diubah menjadi bersifat preventif.

"Yang kita harapkan sebelum terjadinya bencana, kita sudah mengedukasi masyarakat, memberi pemahaman apa yang seharusnya dilakukan," terang Gatot.

Ia menjelaskan, bahwa selama ini penanganan bencana lebih bersifat responsif, di mana setelah kejadian, baru datang beramai-ramai untuk membantu.

"Dulu, sebelum kejadian, tidak ada yang mengurus. Sekarang kita upayakan sebaliknya karena dirasa lebih efektif untuk menekan tingginya korban jiwa akibat bencana," sambungnya lagi.

6. Upaya preventif itu dilakukan untuk membuat desa yang tangguh terhadap bencana

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda TsunamiIDN Times/Nena Zakiah

Bisa dibilang, Indonesia tidak beruntung secara geografis karena letaknya memungkinkan terjadinya bencana alam yang silih berganti melanda negeri ini. Namun, kita tak perlu berkecil hati.

"Artinya kita harus bisa hidup berdampingan dengan alam. Kita tahu kita tinggal di tempat yang berpotensi tsunami, upaya preventif harus dilakukan," ucap Gatot.

Upaya yang dilakukan adalah membuat desa tangguh bencana. Dengan program ini, masyarakat desa diberi edukasi, sosialisasi dan pelatihan untuk membuat desanya tangguh terhadap bencana.

"Misalnya, warga desa diajarkan untuk menerima informasi bencana dari sumber yang otentik seperti BMKG. Kalau sumber lain yang mengeluarkan peringatan, jangan terlalu dirisaukan," terangnya lagi.

7. Selain itu, upaya preventif juga dilakukan dengan cara lainnya

Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda TsunamiIDN Times/Nena Zakiah

Bukan hanya edukasi, upaya lain yang dilakukan adalah melakukan beberapa hal yang bersifat fisik. Misalnya, melakukan penanaman pohon di pesisir pantai sebagai benteng alam untuk menghalau gelombang tsunami.

"Bisa juga menginformasikan ke masyarakat setempat kalau bangunan di pesisir harus dibuat tinggi sebagai pencegahan," jelas Gatot.

Selain itu, dilakukan dengan membuat jalur evakuasi dan memasang rambu-rambu evakuasi. Ini bisa membantu masyarakat, ketika tsunami terjadi mereka tahu harus menyelamatkan diri ke mana.

"Pembangunan shelter tsunami juga penting. Shelter ini adalah tempat lapang yang tinggi tempat berkumpulnya masyarakat ketika tsunami terjadi," lanjutnya lagi.

Baca Juga: Menengok Kesiagaan Penduduk Banyuwangi terhadap Risiko Bencana Tsunami

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Just For You