Berkah Kemarau, Produksi Bata Merah Lamongan Meningkat 100 persen

Panas yang tinggi juga sangat baik bagi kualitas batu bata

Lamongan, IDN Times- Musim kemarau yang terjadi saat ini ternyata membawa berkah tersendiri bagi para perajin batu bata merah asal Desa Pule, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. Para pengerajin batu bata bisa meningkatkan produksi hingga 100 persen. 

Jika pada musim penghujan, proses pengeringan batu bata merah membutuhkan waktu satu minggu lebih, di musim kemarau ini, mereka hanya butuh waktu tiga sampai empat hari. Setelah dikeringkan, bata-bata tersebut kemudian dibakar."Alhamdulillah, kemarau tahun ini produksi kita semakin meningkat," kata salah satu pengerajin batu bata, Masturi (50).

1. Sehari bisa produksi 1000-1500 biji batu bata

Berkah Kemarau, Produksi Bata Merah Lamongan Meningkat 100 persenIDN Times/ Imron

Lantaran proses pengeringan batu bata lebih cepat dibandingkan pada musim penghujan, dalam sehari Masturi dan sang istri bisa memproduksi batu bata ini 1000-1500 biji perharinya. Untuk proses cetakan batu bata tidaklah sulit.

Tanah liat yang sudah dicampur dengan sekam ditambah air secukupnya. "Gampang kok mas cara membuatnya, yang membedakan batu bata daerah sini dengan lainnya, ini soal kualitas tanah," katanya kepada IDN Times di lokasi.

2. Harga batu bata merah Rp500 per biji

Berkah Kemarau, Produksi Bata Merah Lamongan Meningkat 100 persenIDN Times/ Imron

Batu bata yang sudah jadi dan menumpuk di lokasi pembakaran tersebut kemudian diambil oleh para tengkulak. Masturi dan para perajin lainnya menjual batu bata itu Rp500 per bijinya.

Harga ini dianggap sudah sesuai dengan hasil jerih payahnya. "Terbukti, banyak pemborong dan tukang bangunan yang suka batu bata dari produksi di masyarakat Desa Pule. Pertimbangannya ya tentu kuat dan sangat lengket dengan adonan pasir dan semen," imbuhnya.

Baca Juga: Kemarau, Sumur Pompa Dalam untuk Pertanian di Madiun Ditambah 

3. Tersaingi dengan batu bata buatan pabrik

Berkah Kemarau, Produksi Bata Merah Lamongan Meningkat 100 persenIDN Times/ Imron

Namun usaha yang ia rintis selama kurang lebih 35 tahun tersebut saat ini juga sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda di desa setempat. Pasalnya, para pemuda lebih memilih kerja di pabrik dan beralih ke usaha lainnya ketimbang menggeluti pembuatan batu bata.

Apalagi, di era teknologi zaman yang semakin pesat ini, sudah tersedia batu bata putih yang dikeluarkan oleh pabrik. "Sudah tidak ada generasinya sejak pabrik mengeluarkan batu putih," jelasnya.

4. Bisa kantongi hingga Rp5 juta sebulan

Berkah Kemarau, Produksi Bata Merah Lamongan Meningkat 100 persenIDN Times/ Imron

Masturi dan sejumlah penduduk Desa Pule lainnya, sudah sejak lama mengantungkan hidup dari hasil penjualan batu bata merah. Bahkan usaha ini sudah bisa membuat anak-anaknya bisa menempuh pendidikan yang lebih layak. "Kalau omset penjualan batu bata kita perbulannya bisa antara Rp4-5 juta," pungkas pria yang memiliki lima cucu ini.

Baca Juga: Nenek Salkah, Pemulung Asal Lamongan yang Akhinya Berangkat Haji

Topik:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya