Comscore Tracker

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di Surabaya

Cerita di balik pindahnya gay dari Gang Pattaya

Surabaya, IDN Times - Delapan lelaki duduk melingkar di atas trotoar. Mereka saling bertukar canda. Beberapa ada yang sibuk dengan telepon genggamnya. Ada juga yang bersandar di bahu satu sama lain dengan mesra. Mereka tampak betah berlama-lama di atas alas terpal dengan sebungkus tahu goreng di tengah lingkaran.

Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB, jalanan cukup ramai. Maklum, Minggu malam. Beberapa pejalan kaki lalu lalang di samping gerombolan yang berkumpul di tepi Jalan Karimun Jawa, Surabaya. Tak ada yang saling mengganggu. Mereka asyik dengan obrolan sendiri.

Sayup-sayup terdengar obrolan mereka. "Di tempatku nasi gorengnya murah. Cuma Rp10 ribu aja. Jarang loh yang harga segitu sekarang ini. Rame pol, jejer-jejer yang beli," ujar seorang lelaki berambut cepak dengan nada lembut.

Ia mengoceh sembari sesekali mencolek tangan lawan bicaranya. Ternyata mereka sedang adu testimoni nasi goreng mana yang paling murah dan enak di Kota Pahlawan. Tampak tak ada yang aneh dari mereka. Kecuali stigma sosial yang menempel pada kelompok terebut sebagai kelompok homoseksual.

Ya, delapan lelaki itu merupakan kelompok gay. Geng Kentir namanya. Mereka merupakan salah satu komunitas gay yang masih menunjukkan jati dirinya di Kota Surabaya. Geng ini juga penjaga salah satu identitas mereka yaitu Gang Pattaya, sebuah tempat yang dulunya menjadi ikon gay di Kota Surabaya. Meski kini, Pattaya tinggal nama dan kenangan di benak mereka.

1. Jalan Kangean dulunya dikenal sebagai Gang Pattaya

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di SurabayaSuasana Jalan Kangean alias Gang Pattaya saat malam. IDN Times/Fitria Madia

Sekitar 30 meter dari tempat berkumpul Geng Kentir terdapat sebuah jalan sempit bernama Jalan Kangean. Jalan ini gelap, meski beberapa lampu terpasang di ujung-ujungnya. Selain gelap, jalan yang hanya mampu dilalui satu mobil ini tak beraspal. Hanya susunan paving-paving tak sempurna yang menjadi alas jalan.

Di sisi barat jalan sepi itu, mengalir sungai Kalimas. Sungai yang membelah jantung Surabaya. Sedangkan sisi timurnya merupakan tembok dari pergudangan. Saat ini tembok-tembok tinggi tersebut tak lagi kosong. Beberapa mural terlihat menghiasi berusaha mengubah wajah Jalan Kangean. Namun kesan suram tak dapat hilang dari sepanjang Jalan Kangean.

Jalan sepi itu dulunya pernah ramai dengan kerumunan orang. Ya, jalan ini melegenda dengan sebutan Gang Pattaya. Sebuah pusat berkumpulnya para gay. Namun, kisah Gang Pattaya kini tinggal kenanggan. Jangankan nonkrong di sana, untuk lewat saja, para gay sudah tak mau membayangkannya.

“Aku selalu bilang ke anak-anak, Pattaya sudah tutup. Sudah mati. Ini supaya mereka gak lagi membayangkan Pattaya. Supaya mereka gak pengin-pengin lagi masuk ke Pattaya. Move on gitu,” celoteh koordinator Geng Kentir, Sam (45) saat ditemui IDN Times di base camp-nya.

Rasa sakit hati yang berusaha dihapuskan oleh Sam merupakan bukti betapa Gang Pattaya menjadi penting bagi mereka. Terutama gay baby boomer saat belum ada aplikasi chatting dan datting seperti saat ini.

Di Gang Pattaya, para gay dari penjuru Surabaya berkumpul. Mereka bisa datang berkelompok, berpasangan, hingga seorang diri. Di sana para gay menemukan teman senasib seperjuangan. Mereka menemukan teman tanpa harus berpura-pura.

“Aku juga ketemu kakakku di Pattaya. Kaget dong aku, kok kakakku di sini? Eh ternyata dia gay juga. Hahaha,” kenang Sam.

2. Gang Pattaya sebagai sentra para gay

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di SurabayaGeng Kentir saat berkumpul di tepi Jalan Karimun Jawa. IDN Times/Fitria Madia

Tak banyak yang tahu pasti bagaimana awal mula jalan sempit pinggir kali itu menjadi tempat berkumpulnya para gay. Nama Gang Pattaya yang dilekatkan juga menjadi terkenal begitu saja hingga ke masyarakat luas (termasuk para heteroseksual). Saat ditanya apakah ada yang mengerti sejarah tempat itu, semua menggelengkan kepala.

Akhirnya IDN Times dipertemukan dengan Rafael da Costa (48). Ia merupakan satu dari beberapa the founding father of Gang Pattaya. Rafael adalah saksi perjalanan Gang Pattaya. Dari gang yang tak terdeteksi di peta, menjadi meeting point ternama para gay di Surabaya hingga ke Jawa Timur

Rafael bercerita, ia pertama kali nongkrong di Gang Pattaya pada 1992 silam. Kala itu tak banyak kafe atau tempat nongkrong bagi mereka untuk sekadar ngobrol ngalor ngidul. Gang Pattaya pun dipilih tanpa sengaja karena lokasinnya yang jauh dari pemukiman, di mana potensi mereka mendapatkan diskriminasi menjadi kecil.

“Dinamai Pattaya  soalnya kiblatnya di Bangkok. Kalau di sana laut, kalau di sini sungai,” terang Rafael.

Semakin lama, Gang Pattaya makin terkenal. Bukan gay namanya kalau tak tahu Gang Pattaya. Setiap malam selalu saja ada yang nongkrong di sana. Tempatnya yang sepi dan gelap juga menjadi lokasi sesuai bagi mereka yang untuk memenuhi kebutuhan seks. Ya, sangat bebas. Merdeka. Di Pattaya. Tanpa perlu menyewa hotel.

Selain Pattaya, beberapa tempat berkumpul alias ngeber lain juga muncul di Surabaya. Namanya pun unik-unik. Sebut saja Texas alias Terminal Joyoboyo, Istanbul untuk Istana Taman Bungkul, dan California untuk jembatan pinggir kali di dekat WTC. Tapi dari semua tempat itu, tetap Gang Pattaya yang menjadi idola. Paling ramai dan paling eksklusif.

3. Kegiatan edukasi kesehatan seksual sering dipusatkan di sana

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di SurabayaHera (kiri) dan Sam (kanan) saat berada di salah satu rumah temannya. IDN Times/Fitria Madia

Jika diibaratkan para gay adalah ikan, maka Gang Pattaya merupakan danau penuh berisi ikan yang bisa dengan mudah dijaring. Kondisi itu dimanfaatkan dengan baik bagi para pegiat anti HIV dan AIDS. Sebagaimana diketahui, HIV dan AIDS dapat menular kepada siapa saja yang tidak menjalankan seks dengan sehat. Termasuk pada golongan lelaki seks dengan lelaki (LSL) alias gay. Gang Pattaya merupakan tempat yang tepat bagi para pegiat untuk mengedukasi terkait HIV/AIDS, melakukan pendataan, hingga konseling.

Salah seorang pegiat dari Gaya Nusantara, Sigit (51), sempat memanfaatkan kondisi itu pada masa kejayaan Gang Pattaya sekitar tahun 2004-2005. Jika ia ingin membuat kegiatan penyuluhan tentang kesehatan seksual, ia tinggal menggelarnya di Gang Pattaya. Dengan demikian, acara tersebut akan menjadi tepat sasaran.

“Sekarang kan sebenarnya bisa bertemu lewat WA. Tapi itu hanya untuk orang-orang yang sudah kita kenal atau yang memang berniat ingin tahu. Kalau dulu kita bisa bertemu siapa saja, bahkan orang-orang baru. Karena itu kan jadi seperti center-nya begitu,”tutur Sigit.

Hal senada juga disampaikan oleh Sam. Dulu ia dengan mudahnya mengedukasi rekan-rekannya tentang HIV/AIDS. Sam yang juga merupakan pendamping ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dapat mendekatkan diri dengan orang-orang baru yang masih malu-malu mencari tahu apakah mereka terinfeksi atau tidak.

“Jadi bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang. Saya juga bisa menyemangati mereka agar tidak menyerah dengan hidup. Orang kan beda-beda, ya. Ada juga yang tertutup sekali, bahkan dengan keluarganya sendiri. Jadi harus mendapatkan pendekatan juga,” jelas Sam.

Melalui Gang Pattaya itu, Sam dan Sam-Sam lain bisa menjadi tempat berkeluh kesah bagi para jiwa yang lemah.

4. Razia Satpol PP terus menerus membuat para gay tak lagi ingin menempati Gang Pattaya

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di SurabayaIlustrasi razia Satpol PP. IDN Times/Fitria Madia

Namun sekarang Gang Pattaya tinggal kenangan. Razia Satpol PP secara terus menerus membuat para gay  tak lagi dapat tenang di tempat yang dulunya aman. Terhitung, sejak 2015 para penghuni Pattaya sudah mulai hijrah. Pasalnya, razia Satpol PP yang dulunya menyasar mereka yang menjajakan layanan seks komersial saja, semakin lama semakin garang. Jika disinyalir sebagai gay, maka ia akan turut diangkut ke Mako Satpol PP maupun Liponsos Surabaya.

“Aku dulu juga pernah kena garuk (razia). Soalnya anak-anak itu kalau digaruk gak mau ngelawan. Mereka takut. Diam saja. Kalau aku, waktu itu ku lawan. Aku gak salah apa-apa kok,” kenang Sam.

Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto mengatakan, para LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) termasuk dalam penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) berdasarkan Peraturan Menteri Sosial nomor 08 tahun 2012. Oleh karena itu, gay merupakan salah satu target razia dari Tim Asuhan Rembulan disamping para pekerja seks komersial.

“Tim Asuhan Rembulan ini merupakan permintaan Bu Wali Kota (Tri Rismaharini) yang ingin memastikan ketentraman dan ketertiban umum kota during at night. Tim ini gabungan dari Satpol PP, Linmas, Dishub, Polrestabes, dan Gartap,” jelas Irvan.

IDN Times juga berkesempatan mengikuti salah satu razia Tim Asuhan Rembulan. Mereka berkeliling Kota Surabaya menuju ke tempat-tempat yang rawan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Seperti sebuah warung di Tambaksari dan tempat nongkrong di kaki Jembatan Suramadu. Selain merazia narkoba dan minuman keras, mereka juga memastikan kartu identitas para pengunjung.

Meski malam itu Tim Asuhan Rembulan tidak mampir ke Gang Pattaya, Irvan mengatakan bahwa Pattaya dan sekitarnya menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Surabaya. Ia tahu pasti bahwa di sana merupakan tempat berkumpulnya para gay. Jika ia berhasil merazia, para gay itu akan dibawa ke Liponsos Surabaya.

“Nantinya akan dilakukan pembinaan oleh dinas sosial dan dinas kesehatan. Termasuk VCT juga,” jelasnya.

Tapi, tindakan razia itu membawa petaka bagi para gay. Memang benar para waria atau kucing (pekerja seks LSL) sudah jarang di Gang Pattaya lantaran sering kena garuk. Namun, lama kelamaan gay lain menjadi tak nyaman lantaran kerap dihantui razia Satpol PP. Padahal menurut Sam, jika yang dianggap mengganggu adalah para pelaku asusila, maka cukup mereka saja yang diangkut.

“Apalagi kalau sudah dibawa ke Liponsos itu identitas jadi terbongkar. Yang awalnya gak open (mengaku kalau gay) sama keluarga, terpaksa open karena harus dijemput. Ada juga identitasnya yang akhirnya tersebar di warga-warga kalau dia gay atau kena HIV. Kan kasihan,” sesalnya.

Baca Juga: [OPINI] Menerima LGBT Sebagai Manusia, Tapi Tidak Untuk Perilakunya!

5. Para gay pindah ke berbagai tempat setelah Gang Pattaya “ditutup”

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di SurabayaGeng Kentir saat berkumpul di tepi Jalan Karimun Jawa. IDN Times/Fitria Madia

Perasaan tak nyaman itu membuat Gang Pattaya tak lagi menjadi tempat ngeber para gay. Lantaran semakin sepi, begal pun makin sering menyatroni. Sudah banyak korban motornya dirampas. Bahkan, tak sedikit yang menerima sabetan senjata tajam dari para begal. Meski polisi sudah meringkus 5 orang komplotan begal di sana sampai menghadiahi timah panas, namun keberadaan mereka masih ada.

Akhirnya para gay pun pindah. Beberapa dari mereka memilih menyamar sebagai orang “normal” dan membaur di kafe atau mal. Ada juga yang mencari tempat tongkrongan tersendiri di berbagai daerah. Tapi bagi Sam dan Geng Kentir, Pattaya adalah identitas yang tak mau mereka tinggalkan. Mereka pun memilih untuk tetap menempati kawasan Pattaya meski sudah bukan lagi di dalam Jalan Kangean.

“Jadi kalau ada yang tanya, mana Pattaya? Ya ini juga Pattaya,” jelas Sam sembari menunjuk trotar dari ujung ke ujung.

Sam dan teman-temannya memilih untuk bertahan dalam pertemanan mereka dan rutin berkumpul. Hampir tiap hari mereka di sana. Tapi jumlah anggota yang paling banyak biasanya pada hari Sabtu.

Selain kumpul-kumpul, saling bertukar cerita, geng itu juga memiliki berbagai kegiatan seperti komunitas pada umumya. Mereka rutin bagi-bagi takjil, bakar-bakar ikan, melakukan perjalanan ke luar kota, dan berbagai kegiatan seru lainnya.

Bagi gay, tidak mudah mendapatkan teman. Apalagi teman yang bisa menerima mereka apa adanya tanpa harus menutupi orientasi seksual. Hal itu yang dirasakan Hera (35), seorang gay asal Surabaya Utara. Hera dulunya adalah anak yang tertutup dan jarang bergaul dengan lingkungannya.

“Sekarang karena ada mereka, aku jadi  sering main. Aku bisa tertawa lepas. Stresku hilang gitu,” celotehnya seraya membentangkan tangan, seakan memperagakan perasaan tertekannya yang menguap.

Namun, meski  tak lagi berkumpul di tempat gelap dan melakukan aktivitas seksual, mereka masih kerap menjadi sasaran razia. Walau sudah tak sering, tapi bayang-bayang akan digaruk tetap menghantui mereka.

6. “Pengusiran” gay dapat mengganggu psikologi hingga melanggar HAM

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di SurabayaPsikolog Klinis, Khanis Suvianita. IDN Times/Fitria Madia

Hal yang sebenarnya tak disadari dari “pengusiran” gay ini adalah Hak Asasi Manusia yang mereka miliki. Berdasarkan Pasal 24 (1) Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai. Tak terkecuali gay yang berkumpul untuk bersosialiasi tanpa merencanakan hal berbahaya apa pun.

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan bahwa razia yang dilakukan terus menerus hiingga mengancam ketentraman para gay dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM. Pasalnya, mereka juga memiliki hak yang sama untuk berkumpul di ruang publik tanpa mendapatkan tindakan represif.

“Kalau itu diskriminasi atau perlakuan yang tidak manusiawi berdasarkan orientasi seksual, tentu saja itu pelanggaran HAM. Kawan-kawan LGBT memiliki hak dan perlakuan yang sama dengan warga negara lainnya dan itu dilindungi konstitusi,” jelasnya.

Dari segi psikologis, perkumpulan atau bersosialisasi merupakan hal yang penting. Adanya teman dalam kelompok berfungsi sebagai cermin, tempat seseorang untuk meyakinkan apakah pendapat mereka benar atau salah. Jika tidak memiliki teman, seseorang akan dihantui dengan perasaan bersalah dan menjadi halusinasi. Hal ini disampaikan oleh seorang psikolog klinis, Khanis Suvianita.

“Teman itu menjadi ruang, untuk berbagi kegembiraan, untuk kedukaan. Bukan hanya untuk LGBT, untuk siapa pun. Jika orang tidak lagi berkomunikasi dengan temannya, itu akan menjadi berbahaya bagi psikologinya,” papar Khanis.

Situasi ini diperparah dengan kondisi gay yang mayoritas memiliki beban secara psikologis atas stigma masyarakat dan pertanyaan-pertanyaan yang masih berkemelut di dalam diri mereka. Posisi teman yang saling mengerti akan membantu mereka untuk meyakinkan diri bahwa diri mereka berharga. Keputusasaan yang dapat berujung tindakan bunuh diri dapat dihindari.

Tak hanya keberadaan teman dan kelompok, ancaman yang terus menerus berupa razia juga dapat mengganggu psikologi mereka. Bayang-bayang diangkut ke dalam mobil patrol dan diperlakukan seperti kriminal akan menghantui.

“Ketika mereka dirazia, itu negara bilang kamu salah, kamu tidak benar. Kalau ada orang yang masih bertanya-tanya tentang dirinya di tengah pemikiran yang sangat heteronormatif saat ini, maka itu akan semakin mempertebal stigma yang ada di kepalanya. Apalagi kalau sampai dia dirazia dan dimaki-maki, ibarat dia sudah di depan gua, ia akan masuk semakin dalam lagi ke tempat yang amat gulita,” jelas Khanis.

7. Gay hanya ingin berkumpul dengan aman dan nyaman

Nasib Gang Pattaya, Legenda Ngeber Gay di SurabayaSuasana Jalan Kangean alias Gang Pattaya saat malam. IDN Times/Fitria Madia

Tetapi sebenarnya, Gang Pattaya yang dirindukan bukan jalan sempit pinggir kali itu. Hal yang dibutuhkan bagi para gay adalah tempat yang aman dan nyaman untuk berteman. Mereka ingin bisa berkumpul dengan rekananya, sama seperti warga heteroseksual. Tak perlu di Jalan Kangean, jalan mana pun bisa menjadi Pattaya lain jika kemanan dan kenyamanan para gay terjamin. Jika HAM mereka untuk berkumpul bisa terjaga.

“Kami gak bakal ngapa-ngapain kok. Kami juga tahu kalau tindakan asusila itu tidak boleh dilakukan di tempat umum. Kami cuma ingin bersosialisasi, kumpul-kumpul seperti orang-orang lainnya,” harap Sam lirih sembari melempar pandangannya ke segerombolan orang di seberangnya.

Jika Satpol PP Surabaya merasa gay merupakan PMKS, Beka mengatakan mereka perlu mendefinisikan apa kebutuhan atau masalah yang dimiliki gay. Mereka juga harus memberikan solusi atas masalah gay tersebut. Bukan sekadar merazia tanpa ada solusi berikutnya.

“Jadi Pemkot harus menjawab problem itu supaya kawan-kawan LGBT bisa bekerja dengan layak, aman, dan terjamin hidupnya,” tegas Beka.

Gang Pattaya, kini gemerlapmu telah hilang. Suasanamu yang gelap dengan jalanan rumpang seperti menggambarkan perasaan para gay, yang merindukanmu.

Baca Juga: Warna-Warni LGBT di Surabaya: Dulu, Kini, dan Nanti

Topic:

  • Fitria Madia
  • Dida Tenola
  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya