Makin Memanas, Eri-Machfud Sama-sama Klaim Jadi Korban Kecurangan

Waduh sama-sama curang apa gimana nih?

Surabaya, IDN Times - Kampanye Pemilihan Kepala Daerah Kota Surabaya semakin memanas. Masing-masing kubu mengaku sama-sama menjadi korban dari kecurangan. Dengan berusaha mengambil simpati publik, baik Pasangan Calon (Paslon) nomor urut 1 Eri Cahyadi-Armuji maupun Paslon nomor urut 2, Machfud Arifin-Mujiaman menunjukkan cara mereka masing-masing dalam menangani dugaan kecurangan tersebut.

1. Eri-Armuji temukan dugaan kecurangan berupa spanduk provokatif

Makin Memanas, Eri-Machfud Sama-sama Klaim Jadi Korban KecuranganBacawali-Bacawawali Kota Surabaya dari PDIP, Eri Cahyadi-Armuji saat mendaftarkan diri di KPU Surabaya, Jumat (4/9/2020). IDN Times/Fitria Madia

Di tim Eri-Armuji, terbaru pihaknya melaporkan temuan dugaan kecurangan berupa spanduk yang disebut menghasut dan adu domba. Mereka pun melaporkan temuan tersebut ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Surabaya.

"Kami telah menemukan spanduk yang bersifat menghasut, mengadu domba dan berisi kalimat provokatif. Tentu alat peraga kampanye semacam ini sangat berbahaya untuk keamanan, kedamaian dan kenyamanan Pilkada Surabaya. Harus ada tindakan tegas dari penyelenggara Pemilu, khususnya dari Bawaslu," ujar Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Surabaya, Achmad Hidayat, Sabtu (7/11/2020).

2. Merasa ada adu domba simpatisan

Makin Memanas, Eri-Machfud Sama-sama Klaim Jadi Korban KecuranganIlustrasi pilkada serentak (IDN Times/Mardya Shakti)

Spanduk tersebut bertuliskan "Ojok Gelem Dibujuki, Eri-Armudji Duduk Risma. Paham ? Banteng Ketaton Surabaya Siap Memenangkan Machfud Arifin-Mujiaman". Dalam spanduk tersebut ada semacam keterangan pembuatnya yaitu "Banteng Ketaton Kota Surabaya". Yang dipermasalahkan adalah, spanduk tersebut menampilkan logo kepala banteng yang akhirnya dianggap bisa mengadu domba simpatisan dan pendukung.

"Menurut kami, ini perlu mendapat perhatian khusus dan serius dari penyelenggara pemilu, khususnya Bawaslu Surabaya, dengan diberikan tindakan dan sanksi yang tegas sesuai ketentuan perundang-undang yang berlaku. Adanya tindakan tegas berupa penertiban spanduk-spanduk provokatif semacam ini juga dapat menjadi pecegahan agar tidak timbul aksi kekerasan yang lebih luas di lapangan. Serta dapat menghindari adanya tudingan pembiaran oleh aparat berwenang," terang Achmad.

Baca Juga: Dua Paslon Pilkada Surabaya Beda Pendapat soal Kota Layak Huni

3. Tim Machfud-Mujiaman deklarasikan Satgas antikecurangan

Makin Memanas, Eri-Machfud Sama-sama Klaim Jadi Korban KecuranganDok. IDN Times/Istimewa

Di sisi lain, pihak Machfud-Mujiaman juga merasa sebagai korban kecurangan. Mereka menyebut banyak hoaks-hoaks yang berkeliaran seputar dukungan mereka. Akhirnya, mereka pun membuat Satgas untuk menangani kecurangan yang bernama Gebrak (gerakan bersama anti kecurangan).

"Kami melihat banyaknya berita hoaks yang beredar. Kemudian kita melihat ada peraturan dilarang menempelkan gambar di pohon dengan paku, ternyata mereka yang melakukan dan kita yang dituduh," ujar Koordinator Gebrak Asrori Muslich dalam deklarasinya, Sabtu (7/11/2020).

4. Tuding ada penyelewengan APBD dan pelibatan ASN

Makin Memanas, Eri-Machfud Sama-sama Klaim Jadi Korban KecuranganIlustrasi Pilwali Surabaya 2020 (IDN Times/Mardya Shakti)

Selain itu, Asrori mengatakan bahwa pihaknya juga menemukan dugaan pelanggaran berupa penggunaan dana APBD Kota Surabaya untuk pemenangan calon. Ia juga menuding adanya keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk memenangkan Paslon lain.

"Ini adalah bentuk-bentuk kekecewaan kita, kemirisan yang terjadi di Kota Surabaya, di mana Kota Surabaya penduduknya sudah sangat cerdas dan terdidik. Tapi ASN nya, pemkotnya mendidik yang gak benar hanya gara-gara ingin memenangkan paslon yang mereka dukung," sebutnya.

Baca Juga: Debat Perdana Pilkada Surabaya, Eri dan Machfud Adu Visi Misi

Topik:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya