Comscore Tracker

Didominasi Faktor Ekonomi, Perceraian Selama Pandemik di Madiun Naik

Penggugat lebih banyak dari pihak perempuan
Madiun, IDN Times - Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Madiun mencatat jumlah perceraian di daerah itu meningkat. Selama periode Januari hingga Agustus 2020, tercatat ada sebanyak 1.635 kasus. Padahal, di periode yang sama tahun lalu, angka perceraian hanya sekitar 1.300 kasus.
 
Lebih dari separuh perkara pada tahun ini, atau 989 kasus diproses ketika COVID-19 mewabah sejak Maret lalu.  Dari ratusan perkara yang masuk itu, rata-rata diajukan oleh pihak istri atau cerai gugat dengan jumlah 1.135 kasus. "Kebanyakan dipicu karena masalah ekonomi," kata Ketua PA Kabupaten Madiun, Zainal Arifin, Senin (28/9/2020).

1 . Didominasi faktor ekonomi

Didominasi Faktor Ekonomi, Perceraian Selama Pandemik di Madiun NaikIlustrasi Tagihan (IDN Times/Mardya Shakti)
Menurut dia, pihak istri yang mengajukan cerai merasa nafkah dari suami kurang memenuhi kebutuhan. Terlebih saat  pandemik COVID-19 yang berdampak pada merosotnya kondisi perekonomian global. Sebagian pekerja harus dirumahkan bahkan dipecat. 
Selain itu, kasus cerai gugat di latar belakangi faktor tidak bertanggungjawabnya suami terhadap istri. "Juga karena suami suka mabuk-mabukan dan istri tidak tahan dengan sikap tersebut,"  ujar Zainal. 

2. Gugatan oleh pihak perempuan lebih banyak

Didominasi Faktor Ekonomi, Perceraian Selama Pandemik di Madiun NaikDok. IDN Times/Istimewa
Sedangkan cerai talak atau yang diajukan pihak suami pada periode yang sama, pihak PA setempat mencatat sebanyak 500 kasus. Faktor pemicunya seperti tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga lantaran perselisihan yang berkepanjangan. 
 
Berdasarkan data itu, Zainal melanjutkan kasus cerai gugat lebih banyak dibandingkan cerai talak. Kondisi itu hampir selalu terjadi setiap tahunnya. Sayangnya, ia tidak menyampaikan faktor pemicu yang menyebabkan perempuan lebih mendominasi dalam mengajukan cerai dibandingkan laki-laki. 

3. Pengajuan dispensasi kawin meningkat 100 persen lebih

Didominasi Faktor Ekonomi, Perceraian Selama Pandemik di Madiun NaikIlustrasi Pernikahan (IDN Times/Mardya Shakti)

Selain perceraian, jumlah kasus pernikahan dini di Kabupaten Madiun juga meningkat selama pandemik COVI-19. Sejak Januari hingga Agustus 2020, pengajuan dispensasi kawin di PA setempat sebanyak 120. Jumlah itu naik lebih dari 100 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya tercatat 50 pengajuan dispensasi kawin. 

Menurut Zainal, faktor penyebab pengajuan dispensasi kawin ini karena beberapa hal. Salah satunya hamil di luar nikah dan permintaan orang tua. 

Baca Juga: Pemohon Membeludak, Kuota BPUM di Kabupaten Madiun Hanya 12 Ribu 

4. Sebagian pernikahan dini berujung perceraian

Didominasi Faktor Ekonomi, Perceraian Selama Pandemik di Madiun NaikIlustrasi Perceraian (IDN Times/Mardya Shakti)

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBPP dan PA) Kabupaten Madiun Siti Zubaidah, mengatakan bahwa penyebab meningkatnya pernikahan dini karena munculnya UU Nomor 16 Tahun 2019. Di dalamnya mengatur batas usia perempuan menikah yang awalnya 16 tahun menjadi 19 tahun. 
Namun demikian, dari kebanyakan kasus pernikahan dini berakhir pada perceraian. "Karena hanya untuk menutup aib keluarga, psikologis belum matang, kondisi ekonomi juga belum tertata," ujar Siti. 

Baca Juga: Pengacara Ditegur Usai Sebuah Kisah Perceraian di Tulungagung Viral

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Nofika Dian Nugroho di IDN Times Community dengan judul Pandemik COVID-19, Kasus Perceraian di Kabupaten Madiun Meningkat

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya