Comscore Tracker

Saran Psikolog untuk Para Pencari Jodoh Lewat Online, Awas Tertipu!

Ada banyak hal yang harus dipikirkan lagi

Malang, IDN Times - Fenomena mencari jodoh melalui media sosial kian menjadi tren seiring beragamnya platform aplikasi yang mendukung layanan tersebut. Seperti bermunculannya aplikasi-aplikasi dating atau pertemanan yang tersedia pada Apple Store maupun Google Play.

Pandemik COVID-19 yang mengubah cara berkomunikasi semua orang sehingga mendorong peningkatan penggunaan media tersebut, tak terkecuali dalam urusan mencari jodoh atau pasangan hidup.

1. Psikolog sebut pencarian jodoh melalui online menjadi hal yang lumrah

Saran Psikolog untuk Para Pencari Jodoh Lewat Online, Awas Tertipu!Ilustrasi Menikah (IDN Times/Arief Rahmat)

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Salis Yuniardi menyebut fenomena tersebut merupakan hal yang wajar apalagi, selama ini setiap orang memiliki cerita masing-masing dalam menemukan pasangan hidupnya.

Jika dulu kebanyakan pernikahan adalah hasil perjodohan, saat ini cara mendapatkan pasangan hidup lebih beragam pilihan, salah satunya melalui daring atau online.

"Paling tidak, kalau dijodohkan kredibilitas sumber informasi masih cukup baik. Sementara kalau media sosial ada beberapa ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan komunikasi langsung," terangnya Jumat (12/2/2021). 

2. Rentan terjadi bias komunikasi

Saran Psikolog untuk Para Pencari Jodoh Lewat Online, Awas Tertipu!Simulasi akad nikah yang dilakukan di Nendes Kombet Kafe dengan konsep ruang terbuka. IDN Times/Alfi Ramadana

Meski demikian, Salis mewanti-wanti kepada para pencari jodoh secara daring untuk lebih cermat. Pasalnya, cara berkomunikasi melalui daring berbeda dengan bertatap muka.

Dengan online, seseorang tidak akan tahu secara langsung siapa lawan bicaranya atau dalam istilah lain disebut anonimitas. Artinya, bisa saja lawan bicara yang diajak berkomunikasi merupakan orang yang berbeda dengan profil atau informasi diri yang ditampilkan pada media sosial maupun aplikasi.

Dengan begitu, ekspresi emosi lawan bicara layaknya komunikasi secara langsung sulit untuk digambarkan karena maya. Hal tersebut rentan berakibat pada mispersepsi antara kedua belah pihak dan bisa menyebabkan bias komunikasi antar mereka.

"Karena apa yang dilihat dan dibaca lewat online bisa jadi berbeda kenyataan yang diharapkan. Pasangan yang ketemu langsung saja terkadang masih belum sesuai harapan, apalagi yang hanya dikenal melalui foto, chat dan suaranya saja," tambahnya. 

Baca Juga: Berliku, Cerita Millennials Surabaya Cari Jodoh Lewat Media Sosial

3. Pencarian jodoh virtual membuat jati diri yang sebenarnya susah diketahui

Saran Psikolog untuk Para Pencari Jodoh Lewat Online, Awas Tertipu!Ilustrasi Pernikahan (IDN Times/Mardya Shakti)

Dosen Psikologi Universitas Brawijaya Malang, Ika Herani senada dengan Salis. Ia menuturkan bahwa fenomena jodoh vai online menjadi bagian dari dampak globalisasi dalam bentuk komunikasi.

Sama halnya seperti bentuk interaksi masyarakat yang kini juga mulai banyak bergeser menjadi menjadi virtual. Namun, tren komunikasi seperti itu akan membuat penggunanya kesusahan menunjukkan jati diri sebenarnya. 

"Kalau berbicara ideal atau tidak semuanya sangat relatif. Tergantung individu yang menjalaninya. Tetapi Kebanyakan komunikasi menggunakan media sosial cenderung memang melebihkan diri kita, jarang menampilkan diri kita yang sesungguhnya. Oleh karena itu, penjajakan, komunikasi intensif, jika memungkinkan ada pertemuan secara langsung untuk berkenalan lebih dalam akan menjadi hal yang baik," urainya. 

4. Tetap bisa dan boleh dilakukan

Saran Psikolog untuk Para Pencari Jodoh Lewat Online, Awas Tertipu!Ilustrasi Menikah (IDN Times/Arief Rahmat)

Terlepas dari hal tersebut, Ika menyatakan bahwa baik mencari jodoh secara langsung maupun online semuanya bisa saja menjadi ideal. Tetapi, kedua cara tersebut masing-masing memiliki nilai plus dan minus yang harus dipahami oleh muda mudi yang hendak mencari pasangan.

"Bisa dilihat secara langsung dari segi fisik dan atribut lainnya. Kalau via media masih ada kecenderungannya ada disembunyikan, bisa jadi bukan yang bersangkutan. Tetapi masih bisa diatasi dengan diajak lebih intensif dan bertemu jika memang ingin ke tahap lebih serius," tandasnya. 

Baca Juga: Aris dan Endah Sama-sama Patah Hati, Berjodoh Melalui Media Sosial

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Alfi Ramadana di IDN Times Community dengan judul Fenomena Cari Jodoh Melalu Medsos, Ini Penjelasan Psikolog

Topic:

  • Dhana Kencana

Berita Terkini Lainnya