Comscore Tracker

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa Asap

Mereka pilih sampah impor sebagai bahan bakar industri tahu

Sidoarjo, IDN Times - Perjalanan sampah plastik impor di Jawa Timur (Jatim) ternyata tidak berhenti di kawasan Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Benar apa yang dikatakan para pemilah sampah di sana, mereka menjual lagi sampah yang tidak terpakai ke pabrik-pabrik tahu.

Salah penampung sisa pilahan warga Desa Bangun adalah sentra industri tahu yang berada di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Letaknya hanya sekitar 25 kilometer dari Desa Bangun. Ketika IDN Times ke lokasi, asap hitam mengepul di hampir setiap rumah. Maklum, hampir semua warga di sana menjadi produsen tahu. bahkan, beberapa pabrik memiliki karyawan dengan jumlah yang tak sedikit.

1. Pengolahan tahu rumahan sangat sederhana

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa AsapIDN Times/Enggal Hendy Wardhana

IDN Times mencoba mendatangai salah satu pabrik tahu rumahan milik seorang warga bernama Lucky Janiar. Pria berusia 32 tahun ini mengaku memiliki usaha ini bersama keluarga sejak sebelum dirinya lahir. Mereka pun memanfaatkan peralatan seadanya untuk membuat tahu yang akan dijual di Pasar Krian.

Di lokasi, tempat pengolahan tahu milik Lucky tergolong sederhana. Hanya ada empat wadah berbentuk bak yang terbuat dari semen, dua untuk memasak tahu dan dua lainnya untuk mengisi air dan merendam kedelai.

Pabrik tahu rumahan ini juga mempunyai dua alat penggiling yang terletak di samping kandang kambing. Sedangkan tungku pembakaran yang terbuat dari durm atau tong besi, terdapat di bagian belakang.

Di dekat tungku, terlihat sampah plastik yang dipakai untuk bahan bakar memasak tahu. Asap pembakaran tungku disalurkan melalui pipa dan diarahkan ke bak untuk memasak tahu. Sehingga, proses mendidihkan air ini menggunakan uap hasil pembakaran dari tungku.

"Ya memang masaknya dari uap pembakaran disalurkan selang ini ke bak itu," ujar Lucky saat ditemui, Kamis (11/7).

2. Omset dinilai kecil

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa AsapIDN Times/Enggal Hendy Wardhana

Lucky sendiri setiap harinya memasak 100 kilogram kedelai untuk dijadikan tahu. Ia dan ayahnya memasak tahu pada siang hari. Sedangkan malam harinya langsung dijual. "Dibawa ke Pasar Krian, dijual sendiri di sana," ucapnya.

Setiap harinya, Lucky bisa menjual 10 kaleng besar tahu. Satu kaleng ini bisa dibagi menjadi 150 potong tahu. Sedangkan satu potongnya dijual Rp800. "Ya tergantung juga motongnya, kalau saya bisa 150 tahu 1 blek (kalengnya), biasanya 10-11 blek (kaleng)," bebernya. Apabila dihitung lebih rinci, pendapatan kotor industri rumahan tahu ini bisa meraup Rp1,2 juta. 

3. Memilih bahan bakar sampah

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa AsapIDN Times/Enggal Hendy Wardhana

Penghasilan Rp1,2 juta sehari dirasanya masih cukup minim. Alasan itulah yang mendasari kenapa usaha miliknya menggunakan bahan bakar sampah plastik bukan kayu.

"Kalau kayu ya gak nutut buat produksi yang (usaha) kecil gini' makanya pakai sampah ini," ungkap Lucky.

Ia menyebut, satu mobil pick-up sampah plastik bisa dibelinya dengan harga Rp200 ribu. Sementara untuk kayu harganya Rp400-500 ribu. Jarak harga yang terlalu jauh ini membuatnya enggan memakai kayu. "Sampai di sini dijuluki kota asap karena memang rata-rata pakai ini (bahan bakar sampah)," terang Lucky.

Belum lagi, tambah Lucky, harga kedelai masih sering naik turun. Satu kilogram kedelai saat ini harga yang didapatkannya Rp7.000. "Kedelai itu harus yang impor, kalau yang kedelai sini kadang kualitasnya kurang, harganya gak bersaing juga," katanya.

Apabila dihitung, pengeluaran usaha tahu Lucky ini tiap harinya Rp900 ribu. Angka ini didapat dari pembelian kedelai dan bahan bakar sampah. Jika hasil penjualan Rp1,2 juta, Lucky mengantongi penghasilan bersih atau netto Rp300 ribu yang harus dibagi bersama orangtua dan istri anaknya.

4. Kepala Dusun tak mampu berbuat banyak

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa AsapIDN Times/Enggal Hendy Wardhana

Polemik penggunaan sampah plastik di pabrik tahu turut diakui oleh Kepala Dusun (Kasun) Klagen, Siti Kumaila (44). Kasun perempuan ini mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan usaha rumahan dan pabrik tahu yang dilakukan warganya.

Pasalnya, penggunaan bahan bakar dengan sampah plastik ini sudah sejak lama. Ia mengakui, sampah itu didapat dari Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. "Iya ini sudah dari dulu kok (pakai sampah) dari Desa Bangun sana," kata Kumaila.

Ia menambahkan, sampah itu biasanya dikirim oleh mobil pick-up maupun truk. Sampah itu memang sengaja dipesan oleh pemilik usaha tahu. "Ya pesen baru dikirim, kalau pagi banyak," tambah Kumaila.

Terkait kondisi desa, Kumaila membeberkan jika pagi hari asap hitam selalu menyelimuti desa. Ia juga menyebut, pernah terjadi demo karena asap yang dihasilkan dari usaha pengolahan tahu mengganggu warga sekitar yang tidak punya usaha.

"Pernah sempat demo, tapi ya balik lagi begini. Yang punya pabrik juga maunya kalau dilarang (pakai sampah plastik) ya semuanya dilarang tidak cuma di sini (Klagen)," jelas Kumaila.

Kini ia hanya bisa menjalani hidup seperti biasanya. Karena warga Klagen sebagian bekerja di pabrik tahu itu. Larangan yang digalakkan pemerintah diharapkannya lebih bijak dan tidak merugikan pihak manapun.

Baca Juga: Delapan Kontainer Sampah Impor Australia Terkontaminasi Limbah B3

5. Warga mengeluh sesak nafas

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa AsapIDN Times/Enggal Hendy Wardhana

Salah satu warga Klagen, Nasikan (100) yang sudah berusia senja mengatakan sampah plastik baru digunakan beberapa tahun oleh industri tahu. Ia mengaku tak ingat sejak kapan, namun ia menduga warga banyak memanfaatkannya sejak banyak impor sampah. 

"Dulu saya juga pernah kerja di pabrik tahu, itu bakarnya pakai kayu petai dan sekam," kata Nasikan.

Sebenarnya, lanjut dia, pemilik pabrik sudah beberapa kali ditegur oleh warga atau pemerintah daerah. Namun, mereka kembali menggunakan plastik.

"Ya ganti kayu sebentar, sekarang boleh (lagi) pakai plastik," ungkapnya.

Karena usianya yang sudah tua, Nasikan mengaku acap kali merasa sesak saat bernafas. "Banyak asapnya, apalagi kalau pagi. Saya sudah sesak tapi para produsen gak mau ganti bahan bakar."

6. Pemkab Sidoarjo sudah berikan rekomendasi

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa AsapIDN Times/Enggal Hendy Wardhana

Saat dikonfirmasi mengenai polemik tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Sigit Setiawan tak mau berkomentar. Ia hanya memberi laporan soal inspeksi yang mereka lakukan ke Desa Tropodo, 29 Juni 2019 lalu. Dalam laporan itu ada tujuh titik usaha tahu antara lain di Kecamatan Krian, Prambon, Taman, Tarik, Krembung, Tulangan dan Sidoarjo.

Khusus untuk di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, ada 31 pengusaha pabrik tahu yang tersebar di empat dusun. Antara lain, Dusun Klagen, Areng-areng, Tropodo dan Bale Panjang. Inspeksi itu menemukan kalau pengolahan menggunakan teknologi sederhana dan bahan bakarnya sampah plastik.

Dalam laporan tersebut juga tertera kalau banyak warga yang mengidap penyakit ISPA. Pemkab sendiri mengupayakan adanya assesment lanjutan mengenai adanya risiko penyakit kulit, diare, tekanan darah tinggi dan pneomonia serta sesak nafas.

Dalam surat itu juga ada lima rekomendasi. Pertama perlu pertemuan koordinasi lintas sektor bersama dengan sekdes untuk bersama-sama merumuskan pemecahan yang baik karena menyangkut hajat hidup masyarakat.

Kedua, perlua pengecekan udara produksi dan udara ambient untuk mengetahui kadar CO, H2S, Dioxin, Furan dan Pb. Ketiga, perlu dilakukan pengecekan kesehatan masyarakat Trosobo minimal tensi dan risiko penyakit akibat asap produksi tahu. Keempat, perlu pengecekan kualitas fisik, kimia dan bakteriologi air bersih dan air minum. Kelima perlu pembenahan fisik usaha tahu.

Belenggu Sampah Impor, Sulap Tropodo Jadi Desa AsapIDN Times/Sukma Shakti
https://www.youtube.com/embed/iyo1Z_-KcZE

Baca Juga: Sampah Impor Desa Bangun, Berkah di Antara Mara Bahaya

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Just For You