Comscore Tracker

Lagi, ABK Asal Indonesia Tewas Dianiaya dan Dilarung ke Laut 

Pelarungan terjadi di laut Somalia

Jakarta, IDN Times - Awak buah kapal asal Indonesia yang bekerja di kapal asing nampaknya masih belum mendapat perlindungan secara maksimal. Belum usai kasus beberapa ABK diduga meninggal akibat perbudakan, kejadian serupa kembali terulang. 

ABK bernama Herdianto tewas karena diduga mengalami penganiayaan ketika bekerja di kapal berbendera Tiongkok Luqing Yuang Yu 623. Selama bekerja di kapal penangkap ikan itu, Herdianto diduga dianiaya dan mengalami tindak kekerasan fisik. 

"Almarhum sempat ditendang dan dipukul pipa besi, botol kaca hingga disetrum. Bahkan, almarhum yang sudah dalam keadaan sakit pun dipaksa tetap harus bekerja," ungkap Koordinator organisasi Destructive Fishing Watch Indonesia (DFWI), Mohammad Abdi Suhufan ketika dihubungi oleh IDN Times pada Senin (18/5) melalui telepon. 

Di dalam video yang diabadikan oleh diduga ABK lainnya terlihat Herdianto dalam keadaan tak lagi sanggup berjalan dan harus dipapah oleh dua rekannya. Video itu pun akhirnya viral di media sosial. 

Abdi mengatakan, video itu terkonfirmasi kebenarannya. DFW memperoleh video itu dari rekan Herdianto yang bernama Suharno. Ia merupakan anggota Persatuan Pelaut Indonesia di Belitung. 

"Video itu dikirim ketika kapal tengah berlayar di Selat Singapura pada Jumat, 15 Mei lalu. Berdasarkan pelacakan kami di situs marine traffic, terlihat pada waktu itu kapal berlayar dari Selat Singapura menuju ke Beijing," tutur dia lagi. 

Di dalam video itu turut memperlihat jenazah Herdianto dibungkus dan dilarung ke laut. Berdasarkan data yang diperoleh Abdi, Herdianto dilarung di Laut Somalia pada (16/1) lalu. Lalu, apa langkah pemerintah terkait berulangnya peristiwa penganiayaan ABK di atas kapal dan jasadnya kembali dilarung?

1. Rekan Hardianto sudah meminta agar kapal kembali ke darat untuk pemakaman

Lagi, ABK Asal Indonesia Tewas Dianiaya dan Dilarung ke Laut Jenazah ABK Indonesia dilarung di Laut Somalia (Facebook/Suwarno Canö Swe)

Berdasarkan keterangan yang diperoleh DFWI, para ABK asal Indonesia sempat dipindahkan dari kapal Luqing Yuang Yu 623 ke kapal Lu Huang Yuan Yu 115. Ketika Herdianto meninggal, ABK Indonesia lainnya meminta kepada kapten kapal agar mereka segera kembali ke darat dan memberi pemakaman yang layak. 

"Tetapi, nahkoda tidak membolehkan dan tetap melakukan kegiatan penangkapan ikan," kata Abdi. 

Jasad Herdianto justru dilarung ketika kapal tengah berlayar di Laut Somalia. Perlakuan berbeda, Abdi menjelaskan lagi, dialami oleh ketika yang meninggal adalah ABK asal Tiongkok. Tetapi, oleh nahkoda kapal, jasadnya dijanjikan dipulangkan ke darat. 

Proses pelarungan pun tidak sesuai prosedur. Sebab, jenazah tidak diberi pemberat agar tidak mengapung di lautan. Terdengar di dalam video, seorang ABK mengatakan kalimat dalam Bahasa Jawa; "ngapung wo ngapung."

Ada dugaan pula sebelum jenazah dilarung ke Laut Somalia, pihak kapten kapal belum mengantongi izin dari keluarga. Menurut Abdi, perusahaan pengerah tenaga ABK baru mengabarkan setelah jenazah dilarung. Perusahaan juga berjanji akan memberikan hak-hak yang belum diterima oleh Herdianto. 

Baca Juga: 3 Agen yang Berangkatkan 14 ABK WNI ke Kapal Tiongkok Jadi Tersangka

2. Masih ada 22 WNI yang bekerja di beberapa kapal Tiongkok

Lagi, ABK Asal Indonesia Tewas Dianiaya dan Dilarung ke Laut (Ilustrasi kapal) IDN Times/Sukma Shakti

Berdasarkan penelusuran DFW-Indonesia, masih ada 22 ABK asal RI yang bekerja di kapal berbendera Tiongkok, yakni Lu Huang Yuan Yu 115, LQYY 622, LQYY 623 dan LQYY 625. Abdi mengatakan saat ini kondisi puluhan ABK tertekan dan ketakutan. 

"Kami menduga 22 ABK ikan kemungkinan berada di kapal Luqing Yuan Yu 623. Pemerintah harus memberikan perlindungan atas keselamatan para ABK tersebut," tutur Abdi. 

DFW-Indonesia mendesak pemerintah baik itu Kementerian Ketenagakerjaan, Badan Penempatan Pekerja Migran Indonesia dan Kementerian Perhubungan agar bekerja sama dan mengusut peristiwa tersebut. 

"Usut juga manning agency yang mengirimkan ABK Indonesia dan dipekerjakan di kapal Luqing Yuan Yu 623," tutur Abdi. 

DFW-Indonesia juga meminta agar otoritas terkait memeriksa bagaimana prosedur dan mekanisme kelengkapan ABK seperti kontrak kerja, asuransi, dan gaji selama mereka bekerja di kapal berbendera Tiongkok. Pemerintah harus memastikan apakah selama bekerja di kapal berbendera Tiongkok semua hak ABK sudah dipenuhi oleh perusahaan pemilik kapal. 

3. Kemlu sudah melakukan konfirmasi dan memperoleh informasi tentang lokasi pelarungan

Lagi, ABK Asal Indonesia Tewas Dianiaya dan Dilarung ke Laut Potongan gambar ABK Indonesia meninggal di Kapal Luqing Yuan Yu 623 (Facebook/Suwarno Canö Swe)

Sementara itu, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengatakan pihaknya sudah menghubungi pemilik akun media sosial yang mengunggah video pelarungan jenazah Herdianto. Hasilnya, didapat informasi bahwa lokasi pelarungan berada di laut Somalia. 

"KBRI Beijing dan KBRI Nairobi juga tengah mencari informasi mengenai kejadian ini kepada otoritas setempat," kata Judha melalui keterangan tertulis pada Minggu (17/5). 

Baca Juga: Kerja 30 Jam, ABK Indonesia di Kapal Tiongkok Hanya Dibayar Rp100 Ribu

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya