Comscore Tracker

Efektif Bunuh COVID-19, Kolaborasi Unair-BIN Hasilkan 5 Kombinasi Obat

Kabar baik untuk kita semua!

Jakarta, IDN Times - Pemerintah mengumumkan 5 kombinasi obat yang efektif membunuh COVID-19, Jumat (12/6). Obat tersebut merupakan kolaborasi penelitian antara Universitas Airlangga (Unair) dengan Badan Intelijen Negara (BIN).

Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair Dokter Purwati menjelaskan, 5 kombinasi obat itu diambil dari hasil penelitian 14 regimen kombinasi obat yang sudah beredar di pasaran. 

"Kami teliti untuk potensi dan efektivitas obat tersebut sehingga indikasinya diperluas menjadi obat yang mempunyai efek sebagai antivirus dari SARSCOVID2 dengan penanganan COVID-19 yang berbasis dari virus yang di Indonesia dengan melalui serangkaian proses," ujar Purwati saat memberikan keterangan pers secara daring di YouTube channel BNPB Indonesia, Jumat petang.

1. Lewati beberapa proses penelitian

Efektif Bunuh COVID-19, Kolaborasi Unair-BIN Hasilkan 5 Kombinasi ObatRS PHC, anak perusahaan Pelindo 1, sudah memiliki laboratorium PCR untuk menguji sampel swab tenggorok. (dok Humas Pelindo 1)

Ia menjelaskan, poses pertama dalam penelitian tersebut yaitu toksisitas. Proses toksisitas berguna untuk melihat ketinggian tingkat obat tersebut dapat meracuni tubuh. Kemudian, proses yang kedua yaitu, meneliti potensi kemampuan obat tersebut dalam membunuh COVID-19.

"Ketiga, kita mengecek efektivitas seberapa lama efektivitas obat tersebut, kemudian kita juga mengecek beberapa faktor inflamasi dan anti inflamasinya," ujar Purwati. 

Baca Juga: 100 Vaksin virus corona Dikembangkan, 6 Sudah Masuk Uji Coba Manusia

2. Dari 14 regimen obat yang diteliti, 5 di antaranya efektif untuk menghambat COVID-19

Efektif Bunuh COVID-19, Kolaborasi Unair-BIN Hasilkan 5 Kombinasi ObatANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

Selanjutnya, ia menjelaskan dari 14 regimen obat yang diteliti, terdapat 5 kombinasi regimen obat yang punya potensi dan efektivitas cukup bagus untuk pencegahan COVID-19. Kombinasi obat tersebut mempunyai potensi dan efektivitas yang cukup bagus untuk menghambat virus itu masuk ke dalam sel target.

"Dan juga untuk menghambat atau menurunkan perkembangbiakan daripada virus itu di sel, hal itu kita ikuti mulai bertahap, mulai dari 24 jam, 48 jam dan 72 jam maka virus tersebut yang jumlahnya ratusan ribu maka di sini sudah menjadi undetected," katanya. 

3. Ini 5 kombinasi regimen obat untuk pencegahan COVID-19

Efektif Bunuh COVID-19, Kolaborasi Unair-BIN Hasilkan 5 Kombinasi ObatLima kombinasi obat COVID-19 (Tangkapan layar BNPB Indonesia)

Lima macam kombinasi regimen obat itu di antaranya adalah lopinavir, ritonavir dan azitromisin. Kedua yaitu, lopinavir, ritonavir dan doksisiklin. Sedangkan yang ketiga adalah lopinavir, ritonavir dan klaritromisin.

"Keempat hidrosiklorokuin dan azitromisin, kelima kombinasi antara hidrosiklorokuin dan doksisiklin," ujarnya.

4. Regimen kombinasi dipilih karena efektivifas cukup bagus dan dosis lebih kecil dari dosis tunggal

Efektif Bunuh COVID-19, Kolaborasi Unair-BIN Hasilkan 5 Kombinasi ObatIlustrasi rapid test di Lebak (Antaranews)

Ia menjelaskan, sebelumnya penelitian terhadap obat tersebut memang sudah ada, tetapi dalam dosis tunggal. Alasan dipilihnya regimen kombinasi yaitu, pertama mempunyai potensi dan efektivitas yang cukup bagus terhadap daya bunuh COVID-19.

Kedua, dosis yang dipakai di dalam regimen kombinasi lebih kecil yaitu seperlima sampai sepertiga daripada dosis tunggal. Sehingga, sangat mengurangi toksisitas obat tersebut di dalam sel tubuh yang sehat.

"Dengan demikian, regimen kombinasi obat tersebut bisa memutus mata rantai penularan COVID-19," ujarnya.

5. Penelitian natural killer cells dan hematopoietic stem cell juga dilakukan

Efektif Bunuh COVID-19, Kolaborasi Unair-BIN Hasilkan 5 Kombinasi ObatANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Selanjutnya, ia juga menjelaskan penelitian terhadap stem cell turut dilakukan. Jenis stem cell digunakan dalam penelitian adalah natural killer cells dan hematopoietic stem cell.

"Dan didapatkan dalam waktu 24 jam dan 72 jam hematopoietic stem cell dan natural killer cells ini maka dia bisa meninaktivasi daripada virus dengan jumlah yang cukup signifikan besar kurang lebih 80-90 persennya, dan itu bisa kita ambil dari darah dengan pembiakan," kata dia. 

"Kalau hematopoietic stem cell 3 sampai 4 hari kalau natural killer cells 7 sampai dengan 14 hari dan ini bisa kita pakai dalam setting untuk preventif dan juga setting untuk kuratif," katanya melanjutkan. 

Baca Juga: Data Lengkap Virus Corona di Indonesia Per Jumat 12 Juni 2020

Topic:

  • Dida Tenola

Berita Terkini Lainnya