Comscore Tracker

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hidup

Diwoco, dipahami, diresapi

Tak hanya karya sastra, peribahasa juga kerap menjadi dasar sebuah budaya. Di suku Jawa misalnya, beberapa peribahasa mencerminkan perilaku seseorang. Tatanan kata indah dan makna yang mendalam juga membuat peribahasa kerap menjadi dasar panduan hidup seseorang.

Nah, kali ini ada tujuh peribahasa dalam bahasa Jawa yang punya makna dalam soal tingkah laku manusia. Ini sekaligus sebagai pengingat untuk kita agar dapat berbuat kebaikan setiap harinya. Langsung disimak ya!

1. Anak polah bapak kepradah 

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hiduppexels.com/Flora Westbrook

Orang tua selalu mengingatkan kita agar menjaga nama baik keluarga. Sebab, tingkah laku kita dalam masyarakat dapat memberi efek pula pada ayah dan ibu. Jika kita berbuat baik kepada sesama atau dapat berprestasi maka kita secara tak langsung mengangkat derajat orang tua.

Sebaliknya, jika berbuat onar sampai merugikan orang lain maka ayah dan ibu kita juga akan menanggung malu. Kondisi demikian dapat digambarkan dalam peribahasa anak polah bapak kepradah (anak bertingkah bapak menanggung malu). Semoga kita selalu bisa menjaga nama baik keluarga ya!

2. Diobong ora kobong, disiram ora teles

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hiduppexels.com/ Viktoria Slowikowska

Setiap saat kita berjibaku menghadapi serangkaian rintangan dalam hidup. Entah itu dalam urusan pekerjaan, hubungan percintaan hingga saat berada di bangku sekolah atau kuliah. Ada saja hambatan yang muncul menyergap diri kita.

Tapi, yang membedakan antara kita dengan orang lain ialah semangat tak kenal lelah. Meski ditimpa banyak kesulitan kita tak menyerah sedikit pun. Sebab, kita percaya bahwa apa yang saat ini kita lakukan dapat menuai hasil di kemudian hari.

Itulah makna dari peribahasa diobong ora kobong, disiram ora teles (dibakar tidak terbakar, disiram tidak basah).

3. Kakhean gludhuk ora udan

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hiduppexels.com/ Andrea Piacquadio

Kita sering menemukan orang yang banyak bicara, tetapi hasil usaha yang dia kerjakan ternyata tak sesuai dengan apa yang dibicarakan sebelumnya. Padahal, kita tak perlu melakukan hal demikian.

Kita bisa membuktikan bahwa kita mampu menuntaskan sesuatu dengan menyelesaikannya. Sebab, bukan omongan yang dipercaya oleh seseorang terhadap kita tetapi hasil dan usaha yang sudah kita perbuat.

Sikap banyak bicara sedikit bekerja ini dituangkan dalam peribahasa kakehan gludhuk ora udan (kebanyakan guntur/petir tapi tidak hujan).

Baca Juga: 5 Manfaat Mengenalkan Si Kecil Bahasa Jawa Krama Sebagai Bahasa Ibu

4. Sing sapa temenan tinemu

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hiduppexels.com/ Andrea Piacquadio

Kita sering diingatkan untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu. Sebab, apa yang kita kerjakan dengan niat yang besar saat ini akan berbuah di kemudian hari.

Walau pekerjaan kita terlihat sepele tetapi itu akan jadi batu loncatan bagi kesuksesan kita di kemudian hari. Petuah ini persis seperti peribahasa sing sapa temenan tinemu (siapa yang bersungguh-sungguh akan menemukannya).

5. Kutuk marani sunduk

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hiduppexels.com/ Pixabay

Sebagian besar dari kita pasti menghindarkan diri dari sebuah bahaya. Tetapi, ada pula orang yang nekat mendekati sumber bahaya.

Bukan untuk menolong tetapi ingin mengetahui atau bahkan sekadar mengabadikan momen-momen berbahaya yang sedang berlangsung. Perilaku semacam ini pastinya membahayakan nyawa mereka. 

Dalam bahasa Jawa ada peribahasa yang mencerminkan hal seperti itu yakni kutuk marani sunduk (ikan menghampiri sunduk). 

6. Kaya banyu karo lenga

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hiduprealschools.com.au

Coba kamu perhatikan gambar berikut. Yup, ada minyak dalam air di sebuah gelas. Apakah mereka bersatu? Tentu saja tidak. Ini disebabkan karena molekul air yang berjenis polar berbeda dengan molekul minyak yang berjenis non-polar.

Sifat minyak dan air yang sulit bercampur ini mirip dengan situasi saat kita sedang tidak akur dengan seseorang. Nah, sifat air dan minyak ini jadi sebuah peribahasa dalam bahasa Jawa yaitu kaya banyu karo lenga (seperti air dengan minyak).

7. Sing sapa lena bakal cilaka

Sarat Makna, 7 Peribahasa Jawa Ini Bisa Jadi Panduan Hiduppexels.com/ Andrea Piacquadio

Salah satu faktor seseorang gagal pada suatu hal adalah terlena. Yup, kadang kita terlena dengan hasil bagus di pekerjaan sebelumnya dan terlalu larut akan suasana gembira.

Akibatnya kita gagal menuntaskan dengan baik pekerjaan yang saat ini sedang dikerjakan. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tak baik termasuk terlalu terlena akan keberhasilan di waktu sebelumnya, seperti kata peribahasa sing sapa lena bakal cilaka (siapa yang terlena bakal celaka).

Ketujuh peribahasa tadi dapat kita jadikan sebagai pengingat agar selalu wawas diri. Semoga bermanfaat ya, kancaAja lali maca IDN Times yo!

Baca Juga: 10 Peribahasa Jawa yang Sarat Nasihat Agar Hidupmu Makin Bermanfaat

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Dewa Putu Ardita Darma Putera di IDN Times Community dengan judul 7 Peribahasa Bahasa Jawa Ini Cerminkan Sifat Manusia, Wis Eruh Durung?

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya