Comscore Tracker

Jaga Jarak 2 Meter Ternyata Tak Efektif Hindari Droplet

Ada droplet yang bisa terbawa hingga hampir 8 meter

Selama merebaknya COVID-19, selain bermasker kita juga dianjurkan untuk jaga jarak minimal 2 meter agar terhindar dari droplet orang lain. Namun, apakah ini efektif?

Direktur Fluid Dynamics of Disease Transmission Laboratory di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS) Lydia Bourouiba, PhD, mengatakan bahwa menjaga jarak 2 meter tidak cukup menurunkan risiko penularan!.

1. Jaga jarak "6 kaki" awalnya dicetuskan oleh Carl Flügge, ilmuwan asal Jerman 200 tahun lalu

Jaga Jarak 2 Meter Ternyata Tak Efektif Hindari Droplethoustonmethodist.org

Aturan jaga jarak 6 kaki atau setara 2 meter memang baru populer akhir-akhir ini. Akan tetapi, aturan ini dicetuskan di akhir tahun 1800-an oleh Carl Flügge, seorang ilmuwan asal Jerman. Dia menemukan bahwa patogen hadir dalam tetesan besar (droplet) yang dikeluarkan dari hidung dan mulut.

Dilansir Healthline, sebagian besar droplet ini jatuh ke tanah dalam jarak 3-6 kaki (1-2 meter) dari orang yang terinfeksi. Studi ini diperkuat dengan kemajuan fotografi yang menangkap gambar droplet yang disemburkan saat seseorang bersin, batuk, atau berbicara.

2. Ternyata, droplet bisa menyebar hingga hampir 8 meter

Jaga Jarak 2 Meter Ternyata Tak Efektif Hindari Dropletoggiscuola.com

Sementara itu, Jesse Capecelatro, PhD, asisten profesor teknik mesin di Universitas Michigan, AS, ada banyak faktor yang memengaruhi seberapa jauh droplet menyebar. Apabila kelembapan udara rendah, maka droplet yang lebih besar bisa menyusut dan bertahan di udara lebih lama.

Tetesan akan semakin jauh apabila dibawa oleh angin di luar atau disebarkan oleh sistem ventilasi dalam ruangan. Jadi, bisa dibilang menjaga jarak sejauh 2 meter masih belum aman.

Bahkan, dalam penelitian lain, ditemukan bahwa tetesan ekspirasi bisa melakukan perjalanan lebih dari 6 kaki. Ada pula droplet yang terbawa hingga jarak 13-26 kaki (3,9-7,9 meter)!

Dalam studi berjudul "High SARS-CoV-2 Attack Rate Following Exposure at a Choir Practice" yang diterbitkan di "Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR)" yang dikeluarkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), menunjukkan bahwa satu orang anggota paduan suara yang memiliki gejala COVID-19 bisa menularkan virus ke 32 penyanyi lainnya.

Diperkirakan, kekuatan mengembuskan napas saat bernyanyi bisa menyebarkan virus, tetapi bisa juga dari faktor lain seperti berbagi makanan.

3. Risiko tertular virus lebih tinggi di dalam ruangan daripada di luar ruangan

Jaga Jarak 2 Meter Ternyata Tak Efektif Hindari Dropletjordantimes.com

Jesse menyebut bahwa droplet yang dikeluarkan saat batuk, bersin, atau berbicara bisa bertahan lama di dalam ruangan. Apalagi, droplet bisa terhirup jika ruangan itu memiliki ventilasi yang buruk. Bahkan, dalam makalah pracetak yang disusun oleh peneliti asal Jepang, ditemukan bahwa risiko penularan di dalam ruangan 18,7 kali lebih tinggi dari luar ruangan!

Jika pola aliran udara buruk, partikel virus akan mengelompok dan meningkatkan jumlah partikel yang terhirup. Kesimpulannya, ruang berventilasi buruk lebih berisiko, ungkap Jesse seperti tertulis di laman Healthline.

Contoh kasus di Tiongkok, 10 orang dari 3 keluarga mengunjungi sebuah restoran dan akhirnya tertular virus corona strain baru, SARS-CoV-2, penyebab COVID-19, dalam kurun waktu 1 jam. Padahal, tak satu pun dari mereka yang melakukan kontak fisik langsung dengan orang yang terinfeksi virus.

Baca Juga: Tantangan yang Dihadapi Indonesia untuk Mengakhiri Pandemi COVID-19

4. Kuncinya adalah ventilasi

Jaga Jarak 2 Meter Ternyata Tak Efektif Hindari Dropletseattletimes.com

Berdasarkan studi pracetak dari peneliti di University of Minnesota College of Science and Engineering, AS,  ventilasi yang baik bisa menghilangkan partikel virus dari udara. Namun, partikel virus ini justru berakhir di permukaan ruangan. Tim peneliti mengambil sampel dari lift, ruang kelas kecil, dan supermarket.

Menurut Jiarong Hong, PhD, penulis studi sekaligus profesor teknik mesin dari University of Minnesota, jika permukaan tidak rutin dibersihkan, kita bisa terkena partikel virus saat menyentuh permukaan tersebut. Dalam beberapa kasus, ventilasi yang buruk bisa menyebabkan hotspot (titik panas), yakni lokasi tempat partikel virus berkumpul.

Untuk mengatasinya, disarankan untuk menempatkan sumber ventilasi di dekat pemancar virus utama, misal tempat guru berdiri di ruang kelas. Ini berguna untuk menangkap partikel sebanyak mungkin. Saran lainnya adalah membuka jendela agar sirkulasi udara berjalan lancar, jelas Jiarong Hong yang dikutip di laman Healthline.

 

5. Jarak 2 meter hanya efektif jika kita dan orang lain memakai masker

Jaga Jarak 2 Meter Ternyata Tak Efektif Hindari Droplethalifaxcourier.co.uk

Menurut penelitian yang dipublikasikan di "British Medical Journal" (BMJ), ada situasi di mana kita berisiko rendah terpapar virus corona. Misalnya, saat mengadakan pesta di ruang terbuka seperti halaman belakang rumah, akan aman jika orang-orang yang datang saling jaga jarak dan memakai masker dengan benar. Bahkan, walau bernyanyi dan berteriak risikonya tetap rendah asal tetap pakai masker.

Namun, beda cerita kalau orang-orang tersebut melepas masker atau tidak menggunakannya dengan benar. Mereka tidak bisa lagi bernyanyi atau berteriak karena tidak ada masker untuk memperlambat droplet hasil ekspirasi.

Jesse mengatakan bahwa aturan menjaga jarak 6 kaki akan efektif jika kita memakai masker. Akan tetapi, jika tidak, kita berpotensi besar tertular virus. Menurutnya, menjaga jarak bisa mengurangi kemungkinan menghirup tetesan yang dikeluarkan oleh orang lain.

Tak bermaksud untuk menakut-nakuti, tetapi kita memang mesti waspada karena masih banyak yang belum diketahui tentan SARS-CoV-2.

Jangan lengah dalam menjaga diri. Perkuat daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat, pakai masker kalau harus keluar rumah (atau saat sakit dan berada di sekitar orang sakit), cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesering mungkin, bawa selalu hand sanitizer, jaga jarak sejauh yang kamu bisa, dan tak perlu kelayapan untuk urusan yang sifatnya tidak esensial.

Baca Juga: Whole Genome Sequencing, Kunci Penanganan Pandemik COVID-19

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya